KADER, CADRE, DAN PUSINGNYA SAYA SETIAP MAU NULIS RILIS BERITA TENTANG MUHAMMADIYAH DALAM BAHASA INGGRIS

Baca Juga

Begini, saya punya cerita yang mungkin agak receh, tapi ternyata banyak juga yang ngalamin. Beberapa waktu lalu, saya lihat poster pengumuman soal panggilan kader muda Muhammadiyah. Posternya pakai bahasa campur, ada Indonesia, ada Inggris. Dari semua diksi yang dipakai, saya agak mengernyitkan dahi waktu baca terjemahan kata kader yang ditulis "cadre".
Ilustrasi (Gambar : AI Generated)

Saya baca sampai tuntas, captionnya juga, tapi habis itu saya malah diam sendiri. Soalnya kalau dipikir-pikir, ini bukan masalah remeh. Bahasa itu bukan cuma soal kata yang ditukar dengan kata. Bahasa itu bawa sejarah, bawa suasana, bahkan bawa bau. Dan kata cadre dalam bahasa Inggris itu, jujur saja, baunya menyengat. Aroma seragam tentara, palu arit, rapat-rapat tertutup di gedung partai komunis Eropa Timur tahun 1950-an. Kalau kata begitu kita tempelkan ke "kader Muhammadiyah", ya hasilnya jadi aneh.

Iseng saya cek asal-usul kata cadre ini. Akarnya dari bahasa Prancis, artinya bingkai atau kerangka. Awalnya dipakai di kalangan militer Prancis untuk menyebut perwira-perwira inti yang jadi tulang punggung sebuah unit. Lalu menyebar ke dunia politik, terutama waktu partai-partai Marxis-Leninis mengadopsinya untuk menyebut anggota inti mereka yang sudah terbina secara ideologis. Sejak itu, di telinga orang Barat, cadre punya konotasi kiri, militan, dan kaku. Bukan salah katanya, sejarahnya memang begitu.

Masalahnya, kata "kader" dalam bahasa Indonesia justru sudah terbang jauh dari konotasi aslinya. Di tangan kita, "kader" jadi kata yang lentur dan ramah. Ada kader Posyandu, ibu-ibu paruh baya yang bawa timbangan bayi keliling kampung. Ada kader PKK yang sibuk arisan sambil bagi-bagi info gizi. Ada kader Muhammadiyah yang mengajar di sekolah dan rumah sakit. Ada kader Nahdliyin yang mengaji di pesantren. Kata ini sudah meresap ke kehidupan sehari-hari dengan cara yang sangat sipil dan damai. Wajar kalau diterjemahkan balik ke bahasa Inggris dengan kata yang masih berbau seragam, hasilnya terasa janggal.

Teman saya pernah ngobrol dengan seorang peneliti dari Australia yang nulis disertasi soal gerakan Islam di Indonesia. Katanya, dia menyerah menerjemahkan kata "kader" ke bahasa Inggris. Akhirnya dia menulisnya apa adanya dengan huruf miring, lalu dijelaskan di catatan kaki. Strateginya cerdas. Kata-kata seperti ini memang lebih baik dibiarkan utuh, sama seperti orang Inggris membiarkan kata zeitgeist tetap berbahasa Jerman, atau schadenfreude tetap dengan ejaan aslinya. Tidak semua kata perlu diterjemahkan. Beberapa kata punya hak untuk tetap jadi dirinya sendiri.

Tapi tentu tidak semua tulisan akademik bisa pakai strategi italic. Ada konteks di mana kita perlu kata padanan yang langsung dimengerti pembaca asing tanpa perlu catatan kaki. Di sini kita harus pintar memilih, tergantung sisi mana dari "kader" yang ingin ditonjolkan. Kalau yang ditekankan adalah loyalitas dan keterlibatan aktif, kata seperti committed member atau core member sudah cukup mewakili. Kalau yang mau disorot adalah aspek regenerasi dan kepemimpinan masa depan, next-generation leader atau emerging leader terdengar lebih klik. Kata-kata ini lebih ramah, lebih kontemporer, jauh dari aroma sejarah perang dingin.

Di literatur soal gerakan sosial, kata yang sering muncul juga adalah adherent dan activist. Bedanya tipis tapi penting. Adherent menggambarkan seseorang yang menerima dan menjalankan nilai-nilai gerakan, lebih ke arah ideologis. Activist menggambarkan orang yang aktif bergerak dan mengkampanyekan nilai-nilai itu, lebih ke arah praksis. Untuk konteks Muhammadiyah, dua-duanya bisa pas, tergantung sudut pandang tulisannya. Kalau ngomongin pengamalan nilai, adherent cocok. Kalau ngomongin aktivitas dakwah dan gerakan sosial, activist lebih hidup.

Untuk konteks partai politik, urusannya agak beda. Di literatur ilmu politik berbahasa Inggris, istilah yang lebih lazim adalah party activist, party loyalist, atau rank-and-file member. Yang terakhir ini menarik. Rank-and-file secara harfiah artinya barisan yang berbaris rapi, dipakai untuk menyebut anggota biasa yang jadi tulang punggung sebuah organisasi. Maknanya pas, tapi nadanya juga masih agak militeristik. Untuk audiens akademik yang lebih luas, party activist tetap pilihan paling aman.

Yang sering luput dari diskusi terjemahan ini adalah satu hal kecil tapi penting, yaitu pembaca sasaran. Kalau tulisan kita ditujukan untuk jurnal kajian Asia Tenggara, kita boleh agak longgar pakai istilah lokal dengan italic. Pembaca jurnal semacam itu biasanya sudah familiar dengan kata santri, pesantren, atau kiai. Tapi kalau tulisan kita masuk ke jurnal yang pembacanya lintas wilayah, kita harus lebih sabar mencari kata padanan yang tidak butuh catatan kaki panjang. Strategi penulisan akademik itu bukan cuma soal isi, tapi juga soal siapa yang bakal baca.

Saya ingat dulu, salah satu profesor saya pernah bilang, terjemahan yang baik itu seperti baju yang dijahit pas badan. Bukan diukur dari panjang lengannya saja, tapi juga dari nyamannya saat dipakai bergerak. Kata cadre untuk "kader Muhammadiyah" itu seperti baju yang lengannya pas, tapi bahannya gatal. Kata committed member itu seperti baju yang nyaman, meski mungkin agak terlalu kasual untuk sebagian acara. Kita harus pilih, mau gatal tapi formal, atau nyaman tapi agak santai. Tidak ada terjemahan yang sempurna, dan itu bukan masalah. Yang penting kita sadar pilihan kita dan bisa menjelaskannya.

Soal "kader" ini sebenarnya cuma satu contoh dari masalah yang lebih besar. Bahasa Indonesia punya banyak kata yang sulit diterjemahkan persis ke bahasa Inggris. Coba terjemahkan "musyawarah". Bisa jadi deliberation, bisa juga consultation, bisa juga consensus-building. Tapi tidak ada satupun yang menangkap nuansa hangat dan kekeluargaan yang ada di kata aslinya. Atau coba terjemahkan "gotong royong". Bisa jadi mutual cooperation, bisa juga collective work. Tapi rasa kebersamaan dan rasa tidak enak kalau tidak ikut nimbrung itu, hilang di terjemahan. Bahasa kita memang kaya rasa, dan rasa itu sulit dipindahkan.

Justru karena itu, banyak peneliti senior sekarang lebih percaya diri membiarkan istilah-istilah lokal tetap utuh. Mereka tidak lagi melihatnya sebagai kelemahan terjemahan, melainkan sebagai kontribusi pada kekayaan kosakata akademik dunia. Kata guanxi dari Tiongkok sekarang sudah masuk ke jurnal-jurnal manajemen tanpa perlu diterjemahkan. Kata ubuntu dari Afrika Selatan sudah dipakai di literatur etika global. Kata ikigai dari Jepang malah sudah jadi tren self-help di seluruh dunia. Kalau kata-kata itu bisa, kenapa "kader Muhammadiyah" tidak? Tinggal ditulis dengan percaya diri, dikasih penjelasan singkat di awal kemunculan, lalu pembaca akan terbiasa.

Mungkin yang perlu kita ubah dulu adalah cara kita memandang bahasa kita sendiri. Selama ini kita seperti masih agak minder, merasa bahasa Indonesia harus selalu menyesuaikan diri dengan bahasa Inggris. Padahal di forum-forum akademik internasional, kontribusi terbesar kita justru sering datang dari konsep-konsep yang tidak bisa diterjemahkan persis. Konsep itu unik karena bahasanya unik. Memaksakannya ke bahasa lain malah menumpulkan ketajamannya. Kalau ada yang bertanya apa itu kader Muhammadiyah, jawabannya bukan dengan kata Inggris yang tidak pernah pas, melainkan dengan penjelasan ringkas tentang sejarah dan praktiknya. Di situ justru letak nilai akademiknya.

Jadi, kalau ada kawan-kawan yang lagi bingung menerjemahkan kata "kader" untuk tulisan akademiknya, saya kasih saran sederhana. Kalau audiensnya sudah familiar dengan studi Asia Tenggara, biarkan saja kata "kader" tetap utuh dengan italic dan penjelasan singkat. Kalau audiensnya lebih umum, pakai committed member atau core member untuk konteks loyalitas, emerging leader untuk konteks regenerasi, adherent untuk konteks ideologis, dan activist untuk konteks gerakan. Hindari cadre kecuali konteksnya memang politis dan militan, karena bagasi sejarahnya terlalu berat.

Bahasa pada akhirnya adalah jembatan, bukan tembok. Tugas kita sebagai penulis adalah bikin jembatan itu bisa dilewati pembaca dari sisi manapun mereka datang, tanpa kehilangan kekayaan yang mau kita sampaikan. Kata "kader" itu pesan dari kebudayaan kita ke dunia, bahwa ada cara lain mengorganisir manusia, ada cara lain merawat gerakan sosial, ada cara lain memahami komitmen, di luar tradisi yang sudah dikenal Barat. Kalau ditulis dengan percaya diri dan dijelaskan dengan baik, kata sederhana ini bisa jadi pintu masuk yang menarik bagi pembaca asing untuk memahami kita lebih jauh. Dan barangkali, di situlah letak kemenangan kecil kita sebagai penulis. Bukan saat berhasil menerjemahkan, melainkan saat berhasil bikin orang lain ingin tahu apa sebenarnya yang sedang kita bicarakan.

Bagikan artikel ini:

0 comments