PAWANG HUJAN DAN KITA YANG MASIH PERCAYA

Baca Juga

Waktu MotoGP Mandalika ramai dibicarakan beberapa tahun lalu, bukan soal kecepatan motor atau kehebatan pembalapnya yang paling banyak dipercakapkan orang. Melainkan seorang perempuan berambut panjang yang berdiri di tepi sirkuit, mengangkat tangannya ke langit, seolah sedang bernegosiasi dengan sesuatu yang tidak terlihat. Namanya Rara, pawang hujan yang dihadirkan panitia untuk memastikan langit tetap berbaik hati selama balapan berlangsung. Banyak yang menertawakannya. Banyak juga yang membela. Perdebatan soal ilmiah atau tidak meledak di media sosial dengan intensitas yang luar biasa, seolah itulah satu-satunya hal penting di dunia saat itu. Saya tidak terlalu tertarik pada debat itu. Yang lebih menarik perhatian saya justru pertanyaan lain, kenapa kita masih memanggilnya, kenapa sebuah negara dengan segala kemajuan teknis dan infrastrukturnya tetap merasa perlu menaruh seorang manusia berbaju adat di sisi panggung besar, lalu memintanya berbicara kepada langit.
Ilustrasi (Gambar : AI Generated)
Ada sebuah logika sosial yang bekerja di balik kehadiran pawang hujan dalam setiap acara besar, dan logika itu tidak bisa dibaca hanya dengan kacamata sains semata. Emile Durkheim, bapak sosiologi yang tulisannya kerap membuat mahasiswa pusing tujuh keliling, pernah menjelaskan bahwa ritual bukan sekadar takhayul yang dilakukan orang-orang bodoh. Ritual adalah cara masyarakat memperkuat ikatan kolektif, cara mereka menegaskan bahwa mereka adalah satu kesatuan yang memiliki keyakinan bersama. Pawang hujan, dalam kerangka itu, bukan soal apakah hujan benar-benar bisa dihalau oleh kemampuan seseorang. Ia lebih berfungsi sebagai simbol bahwa penyelenggara acara telah melakukan segala yang mereka bisa, termasuk hal-hal yang melampaui batas kemampuan teknis. Dan simbol itu punya fungsi sosial yang nyata bagi masyarakat, ia menenangkan, menyatukan, dan memberikan rasa bahwa semuanya sudah ditangani, meskipun yang sesungguhnya menentukan apakah hujan turun atau tidak sama sekali bukan urusan manusia berbaju adat itu.

Bayangkan Anda adalah panitia sebuah konser besar di lapangan terbuka. Anda sudah menyewa sound system terbaik, mendatangkan artis kelas dunia, menjual ribuan tiket. Lalu sepekan sebelum acara, prakiraan cuaca menunjukkan probabilitas hujan yang tinggi. Anda bisa pasang tenda darurat, itu sudah dilakukan. Anda bisa siapkan jas hujan gratis untuk penonton, itu juga sudah dipikirkan. Tapi masih ada ruang kegelisahan yang tidak bisa diselesaikan oleh semua langkah teknis itu, semacam ketidakpastian yang terus berdetak di kepala seperti jam yang tidak bisa dimatikan. Di situlah pawang hujan masuk, bukan karena ia sungguh-sungguh mampu memindahkan awan, melainkan karena kehadirannya memenuhi kebutuhan psikologis yang tidak bisa dipuaskan oleh spreadsheet dan laporan logistik. Masalahnya, ketika kita membiarkan kebutuhan psikologis itu dipenuhi dengan cara yang keliru, kita sedang membangun kebiasaan berpikir yang berbahaya dalam jangka panjang.

Sponsor pun ternyata punya peran dalam cerita ini. Seorang teman yang bekerja sebagai EO bercerita dengan santai bahwa kehadiran pawang hujan dalam sebuah acara bukan semata keputusan klien, melainkan juga tekanan dari para sponsor. "Sponsor itu ndak mau ambil risiko, Mas," katanya. "Mereka sudah keluar uang besar. Kalau ada pawang hujan dan acaranya lancar, mereka senang. Kalau tidak ada pawang hujan dan hujan turun, pasti yang kena salah kita." Ini adalah sebuah ironi yang menggelikan sekaligus mengkhawatirkan, karena lembaga-lembaga korporasi yang hidup dengan data, dengan KPI, dengan analisis risiko yang rinci, ternyata ikut melegitimasi kepercayaan bahwa hujan bisa dikendalikan oleh manusia tertentu. Yang lebih perlu dikritisi bukan pawang hujannya, melainkan sistem yang terus memproduksi permintaan terhadap jasa ini seolah-olah ia adalah variabel yang bisa diandalkan dalam kalkulasi bisnis modern.

Industri hiburan dan event di Indonesia adalah industri yang perputaran uangnya tidak main-main. Konser musik berskala besar bisa menggerakkan miliaran rupiah, dari tiket, catering, transportasi, hotel, merchandise, sampai jasa-jasa pendukung lainnya. Hujan bukan sekadar soal penonton yang basah-basahan. Hujan adalah risiko finansial yang nyata dan bisa menghancurkan banyak pihak sekaligus dalam satu malam. Di dalam konteks itulah, membayar pawang hujan beberapa juta rupiah tiba-tiba terasa seperti investasi yang masuk akal secara ekonomi. Tapi di sinilah letak persoalannya, kita sedang membangun industri yang menyandarkan sebagian kalkulasi risikonya pada keyakinan bahwa manusia punya kuasa atas cuaca, padahal tidak ada satu pun bukti yang bisa memverifikasi klaim itu. Ketika hujan tidak turun, pawang hujan dipuji. Ketika hujan tetap turun, tidak ada yang mencatat kegagalannya. Mekanisme konfirmasi yang seperti ini yang membuat kepercayaan itu terus bertahan dan tidak pernah benar-benar diuji.

Menariknya, fenomena semacam ini sebenarnya tidak hanya milik Indonesia, meski kita yang paling royal dalam membahasnya. Di Jepang ada ritual doa sebelum pertandingan sumo besar yang dilakukan oleh pendeta Shinto. Di berbagai negara Afrika, tetua adat kerap dilibatkan dalam ritual pembuka sebelum perayaan nasional. Di India, pemanggilan astrolog untuk menentukan hari dan jam terbaik penyelenggaraan acara adalah praktik yang sama sekali tidak dianggap aneh, bahkan oleh kalangan berpendidikan tinggi sekalipun. Ini menunjukkan bahwa kebutuhan manusia akan rasa aman di luar jangkauan teknologi adalah kebutuhan yang universal. Tapi universalitas sebuah kebiasaan tidak otomatis menjadikannya benar atau layak dipertahankan tanpa refleksi, terutama ketika kebiasaan itu mulai membentuk cara pandang masyarakat tentang sebab-akibat, tentang kuasa, dan tentang kepada siapa kita seharusnya menggantungkan harapan.

Sosiologi budaya mengenal istilah sinkretisme, perpaduan antara sistem kepercayaan yang berbeda dalam satu praktik sosial. Indonesia adalah laboratorium sinkretisme yang luar biasa kaya, bangsa yang dengan sangat alami menggabungkan berbagai lapisan kepercayaan dalam satu napas kehidupan sehari-hari. Pawang hujan adalah salah satu produk dari perpaduan itu. Tapi sinkretisme yang dibiarkan berjalan tanpa refleksi kritis akan terus mengendapkan keyakinan-keyakinan lama yang tidak pernah diuji, tidak pernah dipertanyakan, dan tidak pernah dikonfrontasikan dengan pertanyaan yang sederhana sekalipun, apakah ini masuk akal, apakah ini benar, dan apakah ini baik untuk cara berpikir kita sebagai masyarakat yang ingin tumbuh. Membiarkannya bukan sikap yang toleran. Membiarkannya adalah cara kita menghindari percakapan yang sebetulnya perlu kita lakukan.

Kalau kita mau jujur, kebiasaan menyandarkan harapan pada hal-hal yang tidak bisa diverifikasi bukan hanya soal pawang hujan. Kita hidup di tengah masyarakat yang sangat terbiasa dengan logika magis dalam berbagai bentuknya, dari jimat, dari hitungan hari, dari ritual sebelum ujian, dari kepercayaan bahwa benda atau manusia tertentu punya kekuatan khusus atas nasib kita. Masalahnya bukan pada individu yang melakukannya, karena manusia di mana pun di dunia ini memang punya kecenderungan mencari pegangan di luar dirinya. Masalahnya adalah ketika logika semacam itu dinormalisasi dalam skala publik, dilakukan di depan ribuan orang, disiarkan lewat televisi nasional, dan diberi legitimasi oleh lembaga-lembaga yang seharusnya mengambil posisi lebih kritis. Pada titik itulah ia bukan lagi sekadar pilihan pribadi, ia menjadi pendidikan sosial yang diam-diam mengajarkan bahwa cuaca bisa dikendalikan manusia tertentu jika Anda cukup percaya.

Ketika ratusan ribu orang berkumpul di satu tempat untuk konser, festival, atau acara olahraga berskala nasional, yang terjadi bukan sekadar kerumunan manusia yang berdesakan. Durkheim menyebutnya sebagai collective effervescence, letupan energi kolektif yang membuat individu-individu merasa menjadi bagian dari sesuatu yang lebih besar dari diri mereka sendiri. Dalam kondisi seperti itu, pikiran kritis melemah dan kepercayaan komunal menguat, itulah mengapa konser bisa membuat orang menangis tanpa tahu persis kenapa, dan itulah juga mengapa kehadiran pawang hujan di tengah kerumunan besar bisa diterima begitu saja tanpa pertanyaan. Tapi justru di sinilah kita perlu lebih waspada, karena massa yang sedang dilanda collective effervescence adalah massa yang paling mudah menerima klaim apapun tanpa filter. Dan klaim bahwa manusia bisa memindahkan hujan adalah klaim yang seharusnya tidak kita terima begitu saja, apalagi kita rayakan bersama.

Media sosial kemudian mengubah semua ini ke level yang berbeda. Dulu, pawang hujan bekerja dalam keheningan, datang, melakukan ritualnya, dan pergi tanpa terlalu banyak yang tahu. Sekarang, setiap gerakan tangannya direkam, dikliping, disebar, dan dikomentari jutaan orang dalam hitungan jam. Yang menarik bukan perdebatan yang muncul, itu sudah bisa diduga. Yang menarik adalah bagaimana viralitas itu justru memperkuat posisi pawang hujan sebagai figur yang diakui secara publik, karena dalam logika media sosial, sesuatu yang dibicarakan banyak orang otomatis terasa penting dan nyata. Algoritma tidak membedakan antara percakapan yang mengkritisi dan percakapan yang merayakan. Keduanya sama-sama memberi makan pada satu hal yang sama, yaitu keyakinan bahwa pawang hujan adalah bagian sah dari cara kita mengelola acara besar di negeri ini.

Ada hal yang agak ironis dalam cara kelas menengah perkotaan menyikapi pawang hujan. Sebagian besar suara yang paling keras menertawakan praktik ini berasal dari kalangan yang juga paling aktif mengonsumsi produk-produk spiritual ala Barat, crystal healing, manifestasi ala Law of Attraction, moon ritual, journaling yang dikaitkan dengan energi semesta. Tidak ada yang mempermasalahkan itu karena ia dikemas dalam bahasa Inggris dan estetika yang bersih. Pawang hujan ditertawakan bukan karena logikanya lebih lemah dari moon ritual, kalau kita mau jujur, keduanya sama-sama tidak bisa diverifikasi secara empiris. Ia ditertawakan karena tidak estetis, berbau kampung, berbau Indonesia yang tidak keren. Ini adalah bias kelas yang dibungkus dengan bahasa rasionalitas, dan kita perlu jujur bahwa bukan rasionalitas yang mendorong penolakan itu, melainkan selera.

Generasi muda yang tumbuh dalam pusaran media sosial menyikapi semua ini dengan cara yang jauh lebih ambigu. Mereka menonton ritual pawang hujan sambil tertawa, lalu malam harinya mengikuti akun-akun yang mengajarkan cara manifestasi keinginan lewat energi alam semesta. Substansinya sama, keyakinan bahwa ada kekuatan di luar diri yang bisa diajak bekerja sama dengan cara-cara tertentu, hanya kemasannya yang berbeda. Yang perlu kita tanyakan bukan mana yang lebih keren atau lebih terlihat modern. Yang perlu kita tanyakan adalah apakah kita sedang mendidik generasi ini untuk berpikir jernih tentang sebab-akibat, tentang apa yang sungguh-sungguh bisa kita kendalikan dan apa yang tidak, dan tentang ke mana seharusnya kita membawa ketidakberdayaan kita ketika teknologi sudah mencapai batasnya.

Para orang tua yang mempercayakan acara pernikahan anaknya pada pawang hujan tidak melakukannya karena mereka tidak cerdas. Mereka melakukannya karena tidak ada yang pernah mengajak mereka berdialog secara serius tentang kepercayaan ini, tidak ada yang pernah menemani mereka memeriksa apakah keyakinan itu bisa dipertanggungjawabkan, dan tidak ada alternatif yang ditawarkan dengan cukup hangat untuk menggantikan rasa aman yang selama ini mereka cari. Mengkritisi pawang hujan tanpa menyediakan ruang dialog yang manusiawi hanya akan melahirkan defensivitas, bukan refleksi. Yang dibutuhkan bukan ceramah dari atas, melainkan percakapan yang setara, yang menghormati pengalaman hidup mereka sambil perlahan-lahan mengajak mereka memeriksa landasan dari kepercayaan yang sudah lama dipegang itu.

Negara sendiri tidak pernah benar-benar mengambil posisi yang tegas soal ini, dan kekosongan sikap itu punya konsekuensinya sendiri. Tidak ada regulasi yang melarang penggunaan pawang hujan dalam acara publik, tidak ada pula edukasi publik yang cukup serius tentang batas antara tradisi budaya dan klaim supranatural yang berpotensi menyesatkan cara pikir masyarakat. Padahal negara punya perangkat yang cukup, dari kurikulum pendidikan, dari lembaga penyiaran, dari forum-forum kebudayaan yang didanai publik, untuk mendorong masyarakat berpikir lebih kritis tentang praktik-praktik semacam ini tanpa harus bersikap merendahkan. Yang dibutuhkan bukan pelarangan, melainkan percakapan publik yang lebih jujur dan lebih berani tentang apa yang sungguh-sungguh kita percayai dan mengapa.

Profesi pawang hujan sendiri perlu diperlakukan dengan adil dalam percakapan ini. Ada orang-orang yang hidup dari keahlian ini, yang mewariskannya dari generasi ke generasi, yang menjaganya sebagai bagian dari identitas komunitas mereka. Mengkritisi praktik ini bukan berarti merendahkan manusia-manusia itu sebagai pribadi. Yang perlu dikritisi adalah sistemnya, cara masyarakat dan industri besar terus memproduksi permintaan terhadap jasa ini, cara media merayakannya sebagai tontonan tanpa pernah bertanya pertanyaan yang lebih dalam, dan cara kita sebagai masyarakat terus menunda percakapan yang sesungguhnya perlu dilakukan. Pawang hujan ada karena kita memanggilnya. Dan kita terus memanggilnya karena tidak ada yang mengajak kita memikirkan ulang kebiasaan itu dengan serius.

Ilmu pengetahuan telah memberikan kita banyak alat untuk memahami cuaca secara jauh lebih akurat. BMKG hari ini bisa memberikan prakiraan cuaca per jam dengan tingkat akurasi yang terus meningkat. Teknologi modifikasi cuaca seperti hujan buatan sudah digunakan dalam berbagai situasi darurat. Semua itu tersedia dan semua itu digunakan, tapi rupanya belum cukup untuk memenuhi kebutuhan yang lebih dalam, kebutuhan untuk merasa bahwa ada yang bisa dipegang ketika ketidakpastian datang. Masalahnya, kebutuhan itu adalah kebutuhan yang sah dan manusiawi, tapi cara kita memenuhinya selama ini perlu diperiksa. Bukan karena tradisi selalu salah, melainkan karena tidak semua cara menghadapi ketidakpastian membawa kita ke pemahaman yang lebih baik tentang diri kita, tentang alam, dan tentang hubungan kita dengan sesuatu yang lebih besar dari semua itu.

Cara kita memperlakukan pawang hujan adalah cermin dari cara kita memperlakukan pertanyaan-pertanyaan besar dalam hidup, tentang kendali, tentang ketidakpastian, dan tentang ke mana kita pergi ketika merasa tidak berdaya. Jika kita terlalu mudah menerima klaim bahwa manusia tertentu punya kuasa atas cuaca, itu bukan tanda bahwa kita toleran terhadap tradisi, itu tanda bahwa kita belum sungguh-sungguh memikirkan pertanyaan tersebut. Dan jika kita menertawakannya tanpa refleksi, itu juga bukan tanda bahwa kita rasional, itu tanda bahwa kita hanya memilih selera yang berbeda tapi dengan kemalasan berpikir yang sama. Yang dibutuhkan bukan pilihan antara percaya atau menertawakan, melainkan keberanian untuk duduk dengan pertanyaan itu lebih lama dan menjawabnya dengan lebih jujur.

Pertanyaan yang sesungguhnya, dan ini yang paling jarang disentuh dalam semua keramaian perdebatan itu, adalah ke mana kita seharusnya memalingkan wajah ketika merasa tidak berdaya di hadapan sesuatu yang di luar kendali kita. Dalam tradisi keislaman yang bersih dari campuran kepercayaan pra-Islam, doa adalah satu-satunya jalan yang ditempuh ketika manusia sampai pada batas kemampuannya, bukan karena doa adalah teknologi alternatif, melainkan karena doa adalah pengakuan paling jujur bahwa ada yang lebih berkuasa atas hujan, atas angin, atas segala sesuatu yang bergerak di langit dan di bumi. Sholat Istisqa adalah bentuk paling terang dari pengakuan itu, sebuah ibadah yang dilakukan bukan karena manusia yakin bisa memerintah langit, melainkan justru karena ia sadar bahwa langit tidak bisa diperintah oleh siapapun selain Pemiliknya. Keyakinan bahwa manusia tertentu bisa menghalau atau mendatangkan hujan melalui ritual khusus, dalam pandangan ini, bukan sekadar soal takhayul yang memalukan secara intelektual. Ia adalah soal kepada siapa kita benar-benar bergantung, kepada siapa kita benar-benar menyerahkan apa yang tidak mampu kita kendalikan, dan apakah kita sudah cukup jujur dengan diri sendiri dalam menjawab pertanyaan itu. Dan itu bukan pertanyaan yang cukup dijawab dengan satu perdebatan ramai di kolom komentar.

Bagikan artikel ini:

0 comments