MAGISNYA BAIT-BAIT LIRIK “LORD DIDI KEMPOT”

“..............hanya Didi Kempot yang bisa membuat orang merasakan perihnya ditinggal kekasih di Terminal atau Stasiun tanpa harus pergi ke terminal / stasiun itu sendiri”

Beberapa hari setelah lebaran idul fitri tahun ini, nama Didi Kempot tiba-tiba melambung di jagad twitter. Ia berhasil menggebrak Balekambang dengan lirik-liriknya yang penuh dengan kenangan. Penonton histeris. Anehnya, yang hadir di konsernya tersebut mayoritas adalah anak-anak muda yang tergabung sebagai the kempoters, panggilan sayang untuk fans Didi Kempot.

Para kempoters yang meramaikan jagad maya kompak mendapuk Didi Kempot sebagai The Godfather of Broken Heart alias bapak patah hati nasional. Agaknya penghargaan ini tidaklah berlebihan karena Didi Kempot sukses membawa para pendengar lagu-lagunya untuk memanggil kenangan-kenangan lamanya. Tentunya dengan catatan bahwa yang mendengarkan paham bahasa Jawa karena semua lagu-lagu Didi Kempot memakai bahasa Jawa sebagai pengantarnya, sebagai ciri khas lagu campursari sebagai genre yang digelutinya.
Didi Kempot (Sumber : DeviantArt)

Saya sendiri mengenal lagu-lagu Didi Kempot sejak SD. Saya ingat pertama kali bapak saya membelikan VCD di tahun 2000-an, kaset CD lagu Didi Kempot yang pertama kali saya punya adalah yang berisi lagu-lagu seperti Kuncung. Hampir tiap hari, kami sekeluarga memutar lagu-lagu ini sebagai hiburan sepulang sekolah / bekerja. Lirik yang dibawakan, terasa magis bagi saya. Secara tidak sadar, bait-bait lagu milik Didi Kempot memberikan memoar yang berkesan, bahkan hingga saat ini, ketika sudah sekian tahun meninggalkan Indonesia. Playlist lagu di HP dan laptop saya, menempatkan Didi Kempot sebagai yang teratas. Bayangkan, menulis riset doktoral tentang statistika DEMATEL sambil ditemani syair-syair syahdu seperti Terminal Tirtonadi, Gunung Api Purba, dan Perawan Kalimantan. Alhasil saya kadang sampai nangis. Bukan, bukan karena bait lagunya Didi Kempot yang penuh kenangan, tapi karena mentok gaktau lagi apa yang harus ditulis di paper. Uwuwuwuwuwuwuw.........................

Bait-bait lagu Didi Kempot ini seperti pusaka yang harus diruwat karena di dalamnya mengandung banyak makna. Dari sekian puluh jam saya mengulang-ngulang lagu-lagu Didi Kempot, saya mulai menyadari bahwa bait-bait lagunya sangat filosofis dan ngiris ati.

Pemberhentian Transportasi Publik adalah Tempat Paling Menyakitkan Hati di Dunia

Dari semua penyanyi Indonesia dengan berbagai latar genre musiknya, rasanya hanya Didi Kempot yang sadar bahwa tempat-tempat seperti terminal bus, pelabuhan kapal, dan stasiun kereta adalah tempat paling menyakitkan hati. Disinilah pertemuan dan perpisahan terjadi. Daripada pertemuan, perpisahan justru lebih sering terjadi melalui tempat-tempat publik ini. Sebenarnya ini adalah hal biasa yang sering terjadi. Nah, cilakanya perpisahan ini ternyata justru sangat membekas tatkala yang di say good bye kan adalah kekasih kita.

Melalui lagu-lagu Didi Kempot, kita jadi tahu bahwa ternyata perpisahan itu sangat menyakitkan. Apalagi di tempat-tempat publik. Bayangkan ketika saat berpisah, izinnya cuma sebulan saja, tapi nyatanya hingga kini belum pulang juga, bahkan tidak ada kabar. Sungguh perih bukan.

Bagi anda yang belum pernah merasakan dipamiti kekasih di tempat-tempat semacam ini, anda tidak perlu harus merasakan pedihnya perpisahan ini. Cukup dengarkan dan hayati lagu-lagu Didi Kempot yang berlatar belakang terminal, pelabuhan, dan stasiun. Bayangkan, anda sedang mengantar sang kekasih yang mau mudik lebaran. Ia pamit dengan melempar senyum manisnya ke anda. Tapi tiba-tiba, setelah lebaran ia tidak bisa dihubungi. Dan tiba-tiba kirim SMS yang isinya, “Mas, sepertinya hubungan kita sampai disini saja. Aku dijodohkan dengan lelaki pilihan orangtuaku”. Makjleb rasanya. 

Tapi memang dari semua lagu Didi Kempot, tidak ada satupun lagu yang bertema bandara. Bisa jadi, dalam tradisi Jawa, bandara bukanlah tempat transportasi yang umum bagi rakyat, apalagi yang kelas menengah kebawah. Bepergian menggunakan pesawat adalah hal yang kurang lazim. Bagi orang Jawa, apalagi yang tinggal di pelosok seperti saya, bisa jadi bandara adalah satu-satunya tempat yang belum pernah dikunjungi. Dulu saya pertama kali naik pesawat saat kelas 3 SMA, itupun karena menang lomba tingkat nasional dan tiketnya dibelikan panitia untuk ke Jakarta. Memang sih beberapa tahun kemarin pesawat jadi primadona transportasi, tapi itu dulu. Sekarang? Ah sudahlah........ 

Kembali ke soal lagu, melalui tempat-tempat transportasi publik, Didi Kempot berhasil merekam kenangan-kenangan [pahit] agar orang lain bisa merasakan kepahitan itu tanpa harus merasakannya.

Didi Kempot adalah Sosiolog cum Antropolog Sejati

Untuk memahami orang Jawa dan budayanya, seseorang kadang harus sekolah tinggi di bidang sosiologi dan atau antropologi. Ia minimal harus bergelar sarjana. Namun bagi seorang Didi Kempot, untuk memahami karakteristik orang Jawa, cukuplah belajar dari kebiasaan mereka dalam soal hati.

Contohnya misalkan, untuk menggambarkan bahwa orang Jawa itu jembar atine, dowo ususe, Didi Kempot cukup menuliskannya melalui bait syair di salah satu lagunya yang berjudul ”Banyu Langit”.

Janjine lungane ra nganti suwe-suwe
Pamit esuk lungane ra nganti sore
Janjine lungane ra nganti semene suwene
Nganti kapan tak enteni sak tekane

Orang mana coba yang mampu menahan rindu menunggu kepulangan kekasih yang tak pernah tau kapan ia akan pulang, tapi ia rela dengan sabar menunggunya. Ini adalah salah satu karakteristik orang Jawa yang terkenal dengan kesabarannya. Itu baru satu bait lagu, bayangkan kalau kita mempelajari semua bait-bait lagunya. Rasanya buku-buku cetak dengan beragam teorinya yang menerangkan kebudayaan dan masyarakat Jawa tak bisa menjelaskan sejernih bait-bait lagunya Didi Kempot. Sungguh ia adalah manusia cerdas yang hadir di tengah kegersangan ilmu pengetahuan sosial yang semakin tak terjangkau oleh masyarakat untuk memberikan hiburan sekaligus ilmu pengetahuan.

Membaca Syahdunya Pantai di Jawa

Kamu pernah merasakan indahnya matahari di pantai parangtritis bersama kekasihmu? Pernahkah kamu meninggalkan memori indah di pinggiran pantai Klayar dengan deburan ombaknya? Atau pernahkah kamu setelah diputuskan oleh kekasihmu di saat kamu lagi sayang-sayangnya dengannya dan punya kenangan manis di pantai-pantai tersebut?

Rasanya tak semua orang memiliki kenangan manis itu. Biasanya mereka yang berkunjung ke pantai-pantai di Jawa memang benar-benar hanya untuk berlibur. Tapi sebenarnya dibalik indahnya pantai-pantai tersebut, bagi mereka yang sedang kasmaran, tempat-tempat tersebut memiliki nilai kesyahduannya.

Seperti apa kesyahduan tersebut?
Coba dengarkan lirik-lirik lagu bertema pantai milik Didi Kempot. Ia berhasil memotret syahdu dan sendunya pantai parangtritis dan pantai klayar secara apik.

Didi Kempot sukses mengaduk-aduk perasaan para fansnya tentang pahitnya patah hati yang ada kaitannya dengan pantai-pantai tersebut. Ia berhasil merubah cara pandang kita terhadap pantai yang selama ini hanya kita anggap sebagai tempat wisata semata. Ingat, di pantai itu tiap deburan ombaknya selalu membawa kenangan. #Eh


[Diaspora] Jawa untuk Dunia

Jawa adalah salah satu suku dengan sebaran populasinya yang tinggi di hampir semua daerah di Indonesia, bahkan luar negeri. Untuk di Indonesia, Jawa tersebar di hampir semua propinsi besar di Indonesia karena program transmigrasi. Sedangkan di luar negeri, orang Jawa tersebar karena kerja kontrak semasa penjajahan Belanda. Dan Didi Kempot lagi-lagi sukses melihat hal ini sebagai salah satu kekuatan untuk lagu-lagunya. 

Dari sekian banyak lagu yang ia karang, beberapa diantaranya bertema tentang masyarakat Jawa di perantauan, seperti Jawa, Kalimantan, dan Suriname. Bahkan untuk orang Jawa di Lampung, Didi Kempot adalah Icon kebudayaan sekaligus keteguhan hati masyarakatnya. Di tahun 2008, malahan Didi Kempot khusus mengarang lagu pop berbahasa Jawa khusus untuk kampanye calon Gubernur Lampung. Ini dimaksudkan untuk menggaet para pemilih dari masyarakat Jawa di Lampung yang jumlahnya mencapai 78 % dari total populasi masyarakat Lampung secara keseluruhan. Di bait-baitnya, Didi Kempot tak lupa mengenalkan komoditi unggulan dari Lampung berupa Tapioka. Ini adalah diplomasi musik yang secara tak sadar menjadikan Lampung dikenal bukan saja sebagai daerah [rawan] begal, melainkan juga salah satu daerah penghasil tapioka terbesar di Indonesia.

Di Suriname, Didi Kempot disambut bak idola semua warga lintas usia. Ia memang dikenal sebagai salah satu penyanyi lagu Jawa paling populer disana. Ia sendiri mengarang lagu khusus bertema Suriname. Sebagai informasi, jumlah populasi orang Jawa di Suriname mencapai 15 %. Wajar jika Didi Kempot sangat berhasil menjalankan diplomasi kebudayaan melalui musik disini. Diaspora-diaspora Jawa disini adalah sedulur tunggal leluhur

***

Dari semua hal diatas, wajarlah jika kita menyebut Didi Kempot sebagai Maestro Lagu Pop Jawa Paling Legendaris, selain juga sebagai Bapak Patah Hati Nasional.

Jika Anies Baswedan pernah mengatakan tiap senti di Jogja adalah kenangan, maka dari Didi Kempot kita tahu bahwa tiap tempat [umum] adalah kepedihan.......... 

Share:

1 komentar