MAHAMERU ; ANTARA NYALI, LEMAK, DAN KEMAMPUAN

"Tuhan ketika menciptakan jagad raya, menyebarkan beberapa genggam pasir nirwana ke beberapa tempat di bumi. Satu diantaranya adalah Indonesia" 

Pernah nonton film 5 Cm?
Tahu tentang kisahnya?

Itu loh film yang menceritakan tentang petualangan sekelompok anak muda yang mendaki gunung semeru hingga mencapai puncaknya yang dikenal dengan nama Mahameru. Film yang pernah booming dan ber-karambol efek bagi anak-anak muda (terutama mahasiswa) di Indonesia. Saat film itu keluar di pasaran, pas tepat juga saya baru saja beradaptasi di Taiwan, untuk melanjutkan studi.

Ranu Kumbolo

Bagi saya, film tersebut memunculkan sisi lain dari sebuah pendakian. Bahwa pendakian itu tidak sekedar mencapai puncak tertinggi, namun juga bagaimana kita belajar mensyukuri ciptaan Tuhan yang terlukis sebagai lukisan dan nyanyian alam. Sungguh, film yang mendapatkan beberapa nominasi dalam festival film Indonesia ini sangat memberikan inspirasi serta tantangan untuk bisa mendaki puncak mahameru.

Di asrama mahasiswa Asia University, Taiwan saya sekamar dengan teman-teman mahasiswa Indonesia lainnya. Kebetulan 1 diantaranya merupakan pendaki gunung yang dulu banyak menghabiskan waktu di lereng-lereng gunung di pulau Jawa dan Nusa Tenggara. Kami banyak menghabiskan waktu mengobrol tentang keindahan semeru. Dari mulai tarian alam edelweis di ranupane hingga nyanyian orong-orong di arcopodo dengan pemandangan yang sangat indah dibelakang ke arah danau. Kemudian jika berjalan kedepan, terbayang sudah bukit yang terbentang padang rumput yang luas yang dinamakan oro-oro ombo.  Oro-oro ombo dikelilingi bukit dan gunung dengan pemandangan yang sangat indah, padang rumput luas dengan lereng yang ditumbuhi pohon pinus seperti di Eropa. Dari balik Gunung Kepolo akan tampak puncak Gunung Semeru yang menyemburkan asap wedus gembel. Selanjutnya memasuki hutan Cemara dimana kadang-kadang dijumpai burung dan kijang. Banyak terdapat pohon tumbang sehingga harus melangkahi atau menaikinya. Daerah ini dinamakan Cemoro Kandang. Gambaran akan tiap sentimeter jalur pendakian sangat terasa saat ratusan menit dihabiskan hanya untuk membayangkan bagaimana indahnya ranukumbolo hingga teriakan di puncak tertinggi pulau Jawa nantinya. Saya dan dia pun sepakat, sepulangnya dari Taiwan nanti, kami akan mendaki semeru dan mewujudkan mimpi untuk menjejakkan kaki di puncak para dewa.

Pemandangan Matahari terbit dari puncak Mahameru

Impian tentang semeru seketika terhempas, tatkala di RS Taiwan saya divonis dokter untuk operasi Hernia Nucleus Pulposus atau dalam istilah kedokteran Indonesia disebut operasi pengangkatan cakram tulang belakang yang pecah dan menonjol. Dokter menyarankan untuk segera dilakukan operasi, karena khawatir akan terjadi kelumpuhan apabila tidak segera ditangani. Vonis ini semakin membuatku jauh dari impian untuk mendaki semeru tatkala sang dokter menyatakan bahwa proses pemulihan akan memakan waktu 1 tahun.

Alhasil, janji untuk mendaki semeru di akhir tahun 2014 pun kandas. Ditambah lagi dalam proses pemulihan, saya dilarang untuk beraktifitas fisik yang berat, sehingga menyebabkan badan saya membengkak, naik 20 Kg. Ini menambah daftar panjang ganjalan untuk mendaki Semeru.

Puncak Mahameru, Puncak Tertinggi Pulau Jawa

Selama proses penyembuhan, saya terus meyakini bahwasanya saya pasti sembuh dan bisa pulih seperti sedia kala serta bisa mewujudkan impian untuk mendaki semeru bersama mas Yan. Ia pun turut memberikan dukungannya selama proses penyembuhan. Ia menjanjikan akan menemani sampai puncak apabila saya berhasil melewati masa-masa sulit pasca operasi.

Memasuki kwartal ketiga tahun 2015, saya sudah dinyatakan pulih dan melewati masa pemulihan. Dari titik ini, saya bertekad akan mewujudkan mimpi mendaki semeru di akhir tahun 2015. Setibanya saya di Bengkulu, saya menggenjot latihan fisik dari mulai lari-lari kecil (karena belum bisa sekaligus untuk marathon panjang), hingga mencoba segala macam cara diet menurunkan berat badan hingga 20 Kg agar ringan saat mendaki. Apalagi berdasarkan cerita-cerita pendaki yang pernah kesana, jalur yang saya pilih nantinya merupakan rute berat dan curam, sehingga bagi yang bermassa badan lebih seperti saya, akan sangat menyulitkan.

Jalur Pendakian menuju Arcopodo

Saat pertama memulai proses latihan fisik ini, terasa sangat berat. Baik karena berat badan yang sudah berlebih, maupun karena lama tidak melatih fisik. Baru 5 menit lari-lari kecil, sudah ngos-ngosan. Belum lagi untuk push up dan jump set. Semua itu benar-benar membuat jantung terus berdegup seolah sudah tidak tahan memompa darah dan oksigen ke otak. Hampir pingsan rasanya. Namun keyakinan bahwa saya bisa melaluinya dan keinginan untuk bisa mencapai puncak mahameru di waktu yang telah dirancang, membuat rasa capek, lelah, dan rasa hampir putus asa karena keterbatasan kemampuan fisik pasca operasi sirna seketika.

Pun begitu dengan usaha menurunkan berat badan. Tersiksa rasa di badan ketika harus menyantap porsi makanan yang jauh lebih sedikit dan berbeda dari biasanya. Namun demi mendaki semeru, usaha ini harus terus jalan. Rawe-rawe ratas, malang malang butungSekali layar terkembang, pantang berpaling untuk pulang.
"Mahameru berikan damainya di dalam beku Arcopodo. Mahameru sebuah legenda tersisa puncak abadi para dewa"
Kini, memasuki bulan Oktober, yang artinya tinggal 3 bulan lagi sebelum pendakian semeru dimulai, latihan saya mulai menampakkan hasil. Setidaknya saya sudah bisa berlari selama 15 menit tanpa berhenti (walau hanya sekedar lari-lari kecil saja). Kemudian berat badan juga sudah mulai turun sebanyak 8 Kg. Ini artinya saya masih harus menurunkan berat badan saya sebanyak 12 Kg lagi dalam waktu 3 bulan tersisa. Lalu untuk menguatkan massa otot kaki dan punggung, saya melatihnya dengan rutin berenang setiap minggu. Dari yang awalnya hanya kuat 3 menit berenang nonstop, kini saya sudah mampu berenang 10 menit tanpa henti. Progress yang ada saat ini membuatku semakin yakin bahwa impian untuk bisa mendaki semeru akan terwujud akhir tahun ini. Fisik yang terus dilatih rutin, hingga tabungan untuk pergi ke lokasi yang sudah jauh-jauh hari dipersiapkan.

Badan saya memang tidak sekuat dulu saat menjadi relawan Merapi maupun jungle survival di Indonesia Mengajar. Namun keterbatasan yang ada jangan dijadikan penghalang untuk terus melawati tapal batas kemampuan diri demi mewujudkan mimpi. Cross Over The Limit. Keterbatasan memang kerap kali menjadi momok untuk maju. Namun keterbatasan bisa diubah menjadi sebuah kesempatan apabila kita mampu melampauinya. Kenali dirimu, pelajari dirimu, dan terabaslah keterbatasan yang menghalangimu untuk mewujudkan mimpimu.

Share:

0 komentar