NILAI ; TERSURAT ATAU TERSIRAT [?]

Minggu kemarin ada mahasiswa lagi yang datang menghadap, tidak untuk menyerahkan SK Pembimbing Skripsi, melainkan mencoba "Melamar" menjadi pembimbing skripsinya. 

Kalau sebelumnya ada mahasiswa yang sudah punya judul, tapi bingung pola bimbingannya, lain lagi dengan yang ini. Yang sekarang malah belum punya judul untuk dibuat Skripsi namun sudah "berani melamar" dosen untuk menjadi pembimbingnya.

"Pak, saya mau bapak menjadi dosen pembimbing saya", ungkapnya.
"Kamu sudah punya judul atau minimal topik untuk penelitian skripsimu", jawab ku
"Belum pak, tapi saya maunya yang mudah, cepet, kalau bisa 1 bulan selesai. Ya seputaran Marketing Mix dan Kepuasan Konsumen. Kalau bisa tidak usah pakai SPSS atau hitung-hitungan statistika, pak"
"Apa manfaat yang bisa kamu berikan dari topik pilihanmu tersebut untuk dirimu sendiri, institusi, masyarakat akademik, maupun masyarakat umum?"
".......................... Tidak tau pak"
"Silahkan kembali lagi kesini jika kamu sudah punya jawaban atas pertanyaan saya tersebut"

***

Ini bukan tentang eksklusifisme keilmuan seorang pengajar di institusi akademik, melainkan sebuah tanggungjawab moral seorang pengajar untuk memberikan nilai lebih atas apa yang dia ajarkan kepada mahasiswa / peserta didik.

Skripsi itu bukan sekedar menulis topik, melakukan pengambilan data, lalu membahasnya. Skripsi itu adalah "pertaruhan" idealisme akhir sebagai seorang mahasiswa untuk melaksanakan tri dharma perguruan tinggi dimana mahasiswa dituntut untuk bisa bernilai lebih (bermanfaat) bagi masyarakatnya.

Kalau sekedar menulis penelitian, anak SMA pun banyak yang sudah melakukannya. Jadi, apa yang akan kamu berikan untuk masyarakatmu dari apa yang kamu peroleh di jenjang pendidikan tinggi?




Share:

0 komentar