KAFE KUCING ; TANTANGAN UNTUK PARA CATPHOBIA

Apa yang pertama kali terlintas dalam benak kita ketika mendengar nama Jepang? Mungkin bayangan yang akan muncul adalah tentang manga, film kartun, maupun tentang gunung fujinya. Namun selain dari itu, ada hal yang cukup ikonik di Jepang saat ini yang sedang digandrungi para wisatawan. Namanya adalah kafe kucing.

Kalau di Jogja ada sego kucing, maka di Tokyo ada kafe kucing. Bedanya kalau di Jogja sego kucing hanya untuk sebuah kiasan saja, sedangkan di Tokyo kafe kucing adalah nama yang sebenarnya dari sebuah tempat. Beberapa tahun ini di Tokyo mulai bertebaran kafe-kafe semacam ini. Total ada 100 kafe kucing di seluruh wilayah di Jepang.

Kafe kucing atau dalam bahasa jepang disebut sebagai Neco Cafee adalah sebuah tempat (kafe) dimana pengunjungnya bisa berinteraksi dengan puluhan kucing yang sedang bermalas-malasan di meja, kursi, maupun di keranjang. Ini menjadi trend baru di Jepang dan cukup menjadi solusi bagi para pecinta kucing dimana kita tahu bahwa masyarakat Jepang yang mayoritas tinggal di apartemen dilarang memelihara kucing di dalam rumah. Nah di kafe inilah mereka dapat berinteraksi tanpa harus memelihara kucing dan bertanggungjawab atas makanan dan perawatannya. Yang harus diingat adalah ketika kucing-kucing itu sedang tidur, pengunjung tidak diijinkan untuk membangunkannya atau menyentuhnya. Ini dilakukan semata-mata untuk menjaga agar kucing tetap sehat dan mendapatkan jam tidurnya yang cukup. 
Pemilik kafe ini merupakan pecinta kucing dan sengaja membuat ruangan yang luas, dengan sofa-sofa nyaman, serta rak-rak berisi manga untuk dibaca. Dan tentu saja, ada banyak kucing dari berbagai ras, ukuran, dan warna yang berlalu lalang dengan santai di hadapan para pengunjung yang sedang menikmati hidangan di meja mereka.
Foto 3 Kafe Kucing di Jepang
Kalau tertarik untuk masuk, ada prosedur khusus yang harus dilalui. Pertama pengunjung bisa langsung menuju ke tempat resepsionis. Mereka akan meminta pengunjung untuk melepas sepatu dan menggantinya dengan sandal yang sudah disediakan. Selanjutnya pengunjung akan diberi sebuah kartu yang ditandai dari waktu pertama masuk. Fungsi dari kartu ini sebagai penanda bahwa pengunjung masuk dari jam sekian sampai jam sekian, ini dilakukan karena memang hitungannya per jam. Untuk bisa nongkrong dengan kucing, para pengunjung dikenakan biaya sekitar ¥1,000 per jam. Setelah itu pengunjung bisa memesan berbagai macam minuman, seperti kopi teh atau jus dengan harga sekitar ¥350.
Nantinya petugas di kafe tersebut juga akan menyemprotkan pembersih tangan terlebih dulu untuk menjaga kebersihan. Setelah itu, pengunjung bisa duduk santai dan bermalas-malasan sambil menyaksikan kucing-kucing itu beraksi. Sebagian besar pengunjung yang datang akan mengambil foto untuk kenang-kenangan karena kafe kucing ini memang sangat unik dan jarang ditemukan.

Foto 5 Kafe Kucing di JepangKalau ingin bermain-main dengan kucing, pengunjung bisa menarik perhatian mereka dengan aneka mainan. Tapi harus sabar, karena kalau sedang malas, kucing-kucing ini hanya akan melihat tanpa bergerak sedikit pun. Kalau sudah masuk jam makan, sang pemilik pun akan mengisi mangkok-mangkok kecil dan langsung dilahap oleh sekawanan kucing yang awalnya sedang bermalas-malasan. Terlihat jelas kalau mereka sehat dan dirawat dengan baik sehingga yang datang pun senang bermain-main dengan mereka.
Selain kucing, minuman, rak-rak yang berisi manga dan mainan untuk kucing, kafe kucing juga dilengkapi dengan komputer yang terhubung dengan internet dan kursi pijat yang bisa dipakai secara gratis. Bahkan mereka juga membingkai semua kucing, nama-nama dan menjelaskan kepribadian masing-masing sehingga yang datang pun bisa mengenal lebih dekat dengan semua kucing yang ada.
Bagi para pengunjung yang memiliki catphobia, kafe kucing ini bisa menjadi alternatif untuk menghilangkan phobia terhadap kucing. Pengunjung akan disuguhkan dengan berbagai hal unik dan berbeda dari kucing yang biasanya. 

Jadi, seandainya diberi kesempatan untuk mengunjungi kafe ini, apakah kamu akan in or out

Perjalanan Jakarta-Bengkulu, 10 Agustus 2014

dR.

Share:

0 komentar