ADA APA DENGAN OSK?

Hajatan akbar Olimpiade Sains Kuark 2013 baru saja diselesaikan. Namun hingar bingar mengenai cerita dibalik pelaksanaan OSK di berbagai wilayah di Indonesia belumlah terhenti, tak terkecuali dengan rekan-rekan Pengajar Muda Gerakan Indonesia Mengajar.

Di media social rekan-rekan PM banyak yang bercerita bagaimana pelaksanaan OSK di daerah penempatan masing-masing. Banyak cerita menggelitik yang mungkin menarik kalau diceritakan ke publik. Namun cerita di tulisan ini bukan untuk menceritakan mengenai itu, namun lebih kepada bagaimana saya selaku "guru bantu" yang merasakan juga membimbing anak-anak untuk mengikuti kegiatan OSK ini. Sebelum bercerita lebih panjang, saya memperkenalkan sekolah saya terlebih dahulu.

Namanya SD Negeri 1 Sidomulyo, Kecamatan Bangunrejo. Letaknya kurang lebih 3 jam dari pusat pemerintahan kabupaten Lampung Tengah. SD ini tidak pernah sekalipun mengikuti lomba-lomba selain yang diadakan oleh UPTD / Dinas terkait. Untuk OSK, ini adalah kali pertama SD ini mengikutinya. Dalam 1 kecamatan Bangunrejo, hanya SD inilah yang maju untuk mengikuti OSK tahun 2013 ini. Tentunya dengan segala persiapan yang bisa dilakukan.

Ketika pertama kali memberitahukan kepada Kepala Sekolah dan dewan guru mengenai OSK ini, memang banyak yang mengerutkan dahi, menampakkan mereka sangat asing dengan istilah ini. Selama ini mereka hanya mengenal 2 olimpiade yaitu Olimpiade Sains Nasional dan Olimpiade Olahraga dan Seni Nasional. Sehingga membutuhkan waktu berhari-hari untuk meyakinkan mereka mengenai olimpiade dan menjelaskan skema serta persiapan yang akan dilakukan.


Aku membeli buku sebanyak 3 level dengan 4 edisi sekaligus. Total ada 12 edisi yang kemudian aku tunjukkan kepada dewan guru. Awalnya memang dewan guru ragu dengan soal-soal yang ada di buku Kuark, karena menurut mereka itu terlampau susah untuk anak-anak. Aku menjelaskan bahwa bobot nilai dari setiap soal dan materi di buku Kuark sangatlah berbeda dengan bobot soal di perlombaan yang lain. Disini nampak bahwa soal-soal yang disajikan selalu mengajukan pertanyaan analisis kepada siswa, fungsinya tidak lain adalah untuk menumbuhkan jiwa kritis serta kemauan belajar mengenai sains di kalangan anak-anak.

Di hari pertama aku memberikan buku Kuark kepada anak-anak, tanggapannya beragam. Ada yang menyukainya dan adapula yang berkerut dahi membaca isi dari setiap percakapan yang ada di buku Kuark. Namun overall itu sangat menarik bagi mereka karena bergambar dan full color. 

Tentang Olimpiade Sains Kuark sendiri menurut saya sangatlah bagus untuk melatih jiwa kompetisi dan daya nalar serta kritis bagi anak-anak. Ini saya alami sendiri ketika memberikan les bagi OSK Club SD saya. 1 bulan pasca saya memberikan buku Kuark, anak-anak mulai kritis. Mereka mulai banyak yang menanyakan mengenai istilah-istilah yang asing yang tak pernah mereka temukan di kelas. Walaupun kesannya sederhana namun ini adalah pintu untuk membuka daya kritis dan daya nalar mereka terhadap sains.

Berikutnya adalah mengenai pemahaman gejala sains yang ada di kehidupan sehari-hari mereka. Selama ini banyak kejadian di kehidupan mereka yang tak pernah mereka pahami sebagai gejala sains. Seperti contohnya petir. Pertanyaan yang kemudian saya ajukan untuk mereka analisis adalah mengapa terjadi petir? Petir itu apa?
Dari pertanyaan-pertanyaan simpel seperti ini, mereka menjadi tertarik untuk kemudian menganalisis berbagai gejala sains dan disangkutkan pada teori-teori sains yang ada pada buku Kuark. Seperti contoh ada pada buku Kuark edisi 4 level 2 tentang kucing. Pertanyaan yang muncul adalah Mengapa kucing kalau melompat dari genteng rumah tidak patah kakinya?
Aku cukup menjawabnya dengan silahkan dibaca di buku edisi 4. Dan merekapun tersenyum senang tatkala menemukan sendiri jawaban dari pertanyaan mereka itu.

Lalu selanjutnya adalah apa perbedaan soal-soal OSK, OSN dan lomba-lomba yang lain yang diadakan oleh dinas atau lembaga lain?

Saya mengutip apa yang yang dikatakan oleh rekan Mesa (PM V Halsel) bahwa soal OSK itu bagus untuk anak-anak belajar bertanya, membangkitkan curiosity mereka seperti kenapa bulan bersinar, kenapa air mengalir, sehingga ini menjadi pembelajaraan mereka untuk mengeskplor hal baru. Ini berbeda dengan soal-soal yanga ada pada OSN atau soal lain, karena pada OSN atau lomba-lomba lain soalnya sangat mirip seperti ujian nasional. Soalnya lebih menitikberatkan pada soal jenis hafalan, bukan untuk pemahaman. Ini sangat bertentangan dengan apa yang dicita-citakan kurikulum pendidikan di Indonesia mengenai penekanan pada aspek pemahaman, bukan hafalan.

Terlepas dari adanya permainan pada sisi administrasi pendaftaran maupun pelaksanaannya, saya melihat bahwa OSK sangatlah positif untuk perkembangan anak-anak SD. Guru yang merupakan pembimbing ilmu pengetahuan sudah seyogyanya memberikan andil untuk pelaksanaan OSK ini, baik secara materi maupun non materi.

Terakhir saya ingin mengatakan bahwa seberat apapun persiapan menuju OSK, menjalaninya adalah suatu keasyikan tersendiri. Dan kalau saya diharuskan mengulang masa-masa kemarin, maka saya tetap akan memilih menjadi guru pembimbing OSK bagi anak-anak saya.

Asia University dormitory, Taiwan 25 February 2013

dR.

* Gambar dari sini

Share:

0 komentar