Sudah beberapa tahun ini Bengkulu punya pemandangan yang sebenarnya tidak lucu. Antrean kendaraan di SPBU. Panjangnya kadang seperti orang sedang antre mendapatkan sesuatu yang sangat langka. Padahal BBM-nya tidak benar-benar hilang. Masih ada. Hanya saja untuk mendapatkannya, orang perlu menyediakan waktu lebih banyak daripada biasanya.
Mungkin kata krisis membuat sebagian pejabat kurang nyaman. Karena kalau disebut krisis, kesannya barangnya tidak ada. Padahal BBM tetap ada. Pertalite masih ada. Solar masih ada. Hanya antreannya yang juga tetap ada.
Solar malah sering lebih dramatis. Antrean kendaraan bisa memanjang sampai lebih dari satu kilometer. Sopir truk tentu tidak sedang rekreasi di jalan itu. Mereka sedang bekerja. Satu jam, dua jam, bahkan lebih, berarti ada ongkos yang ikut berjalan tetapi tidak menghasilkan apa-apa.
Pertalite punya cerita lain. Pembelian dibatasi. Mobil sekian liter. Motor beberapa liter. Alasannya supaya merata. Logikanya sederhana. Kalau semua orang dibatasi, semua orang mendapat bagian. Masalahnya, kebutuhan orang tidak selalu sama dengan angka yang ditulis di papan pembatasan.
Yang membuat orang bertanya justru pemandangan di sekitar SPBU. Bensin eceran masih gampang ditemukan. Berdiri di depan rumah. Berdiri di pinggir jalan. Bahkan tidak jarang tidak jauh dari SPBU. Dari mana barang itu datang, sebenarnya bukan pertanyaan yang sulit.
Kalau mau dicari, jalurnya juga mungkin tidak terlalu rumit. Siapa yang bisa mendapatkan BBM subsidi dalam jumlah besar untuk kemudian dijual lagi, tentu bukan teka-teki kelas detektif. Tetapi sudahlah. Saya tidak sedang ingin membicarakan itu. TST saja.
Saya justru ingin membicarakan sesuatu yang lebih menarik. Sesuatu yang mungkin selama ini berdiri di depan mata tetapi belum banyak dilirik. Namanya pirolisis. Kedengarannya memang seperti nama penyakit. Padahal bukan. Ini teknologi untuk mengubah plastik menjadi bahan bakar melalui pemanasan dalam kondisi minim atau tanpa oksigen.
Plastik itu pada dasarnya bukan benda yang jatuh dari langit. Ia berasal dari hidrokarbon. Dari bahan yang sama dengan keluarga besar minyak dan gas. Karena itu ketika plastik dipanaskan dengan proses yang tepat, rantai molekulnya bisa dipecah menjadi produk hidrokarbon yang dapat dikondensasikan menjadi minyak.
Teknologi ini bukan barang kemarin sore. Di Banjarnegara, Jawa Tengah, pengembangan pengolahan plastik menjadi BBM sudah berjalan sejak 2014 oleh Bank Sampah Banjarnegara. Bahkan sebuah Start Up pengolahan BBM dari sampah plastik bernama Get Plastic, juga menyebut pengembangan mesin pirolisis mereka dimulai pada tahun yang sama. Artinya, kita tidak sedang membicarakan ide yang baru muncul dari obrolan warung kopi tadi malam.
Bahkan Bengkulu sendiri sebenarnya sudah pernah mencicipinya. Bank Sampah Jaga Alam Kita atau JAKI, yang digerakkan anak-anak muda peduli lingkungan, sudah mengoperasikan mesin pirolisis sejak 2023 di kawasan TPA Air Sebakul. Kapasitasnya masih terbatas, sekitar 50 kilogram plastik per hari, dengan hasil sekitar 40 sampai 45 liter bahan bakar alternatif. Inisiatif ini menunjukkan bahwa gagasannya bukan hanya mungkin, tetapi sudah pernah dijalankan di Bengkulu.
Nah, di sinilah saya mulai berpikir. Mengapa inisiatif seperti BSI JAKI tidak diambil alih, diperkuat, dan ditingkatkan kapasitasnya oleh pemerintah? Bengkulu sedang sibuk dengan sampah. BBM juga sedang menjadi persoalan. Dua masalah itu ternyata bisa duduk di meja yang sama. Bahkan mungkin bisa saling membantu mencari jalan keluar.
Anak-anak muda sudah memulai. Mereka sudah membuktikan bahwa mesin bisa beroperasi. Kapasitasnya memang masih terbatas, tetapi justru di situlah peran pemerintah seharusnya hadir. Bukan mengambil alih dalam arti mematikan inisiatif warga, melainkan mengambil tanggung jawab untuk memperbesar dampaknya. Pemerintah punya anggaran, punya kewenangan, punya fasilitas, dan punya kemampuan menghubungkan program lintas sektor.
Daripada anggaran terus diarahkan ke program seperti Kopdes yang sampai sekarang belum jelas berjalan atau tidak, bahkan banyak yang secara konsep bisnis saja sudah terasa dipaksakan, mengapa tidak dilakukan refocusing? Daripada membiayai sesuatu yang belum tentu punya pasar, model usaha, atau pengelola yang siap, lebih baik memperkuat inisiatif yang sudah ada, sudah diuji, dan langsung menyasar dua persoalan nyata: sampah dan energi. Sekali gas, sepuluh Kopdes dan SPPG terlewati.
Selama ini cara berpikir kita tentang sampah sering berhenti pada satu kalimat. Bagaimana membuangnya. Maka dibangun tempat pembuangan. Kemudian tempat itu penuh. Lalu mencari tempat baru. Begitu terus. Sampahnya berpindah tempat, tetapi masalahnya tidak pernah benar-benar pindah.
Ada juga gagasan menjadikan sampah sebagai listrik. Bagus. Tetapi teknologi pembangkit listrik dari sampah skala besar membutuhkan investasi yang tidak kecil. Infrastruktur pendukungnya juga bukan main. Kalau pemerintah daerah belum siap dengan investasi sebesar itu, bukan berarti semua teknologi harus berhenti.
Pirolisis menawarkan skala yang berbeda. Tidak harus langsung membuat pabrik raksasa. Bisa dimulai dari ratusan kilogram per hari. Mesin ditempatkan dekat sumber sampah. Plastik dipilah. Plastik bernilai tinggi tetap dijual ke industri daur ulang. Yang tidak laku itulah yang masuk ke pirolisis.
Hitungannya mulai menarik ketika kita memakai angka yang sederhana. Misalnya satu unit mesin dan fasilitas pendukung kita anggap membutuhkan Rp200 juta untuk mesin. Saya sengaja memakai angka itu sebagai asumsi awal, bukan harga resmi semua mesin di pasar. Karena harga sebenarnya akan bergantung pada kapasitas, sistem pemanasan, kondensor, otomatisasi, instalasi keselamatan dan fasilitas pendukung.
Sekarang kita ambil kapasitas 300 kilogram plastik per hari. Kita gunakan asumsi hasil konservatif 0,8 liter BBM dari setiap kilogram plastik. Angka 0,8 liter per kilogram juga pernah digunakan dalam laporan mengenai teknologi pengolahan plastik menjadi BBM. Namun, hasil pirolisis tidak selalu berupa satu jenis produk. Sebagai pembanding, sebuah mesin pirolisis karya startup lokal dari Bali dilaporkan mampu menghasilkan sekitar 8,65 liter solar dan 0,9 liter fraksi bensin dari 10 kilogram sampah, atau total sekitar 9,55 liter produk cair. Angka ini menunjukkan bahwa rendemen dan komposisi produk sangat bergantung pada jenis sampah, kadar air, pemilahan, desain mesin dan proses pengolahannya. Karena itu, angka 0,8 liter per kilogram sebaiknya tetap diperlakukan sebagai asumsi perhitungan, bukan janji produksi.
Maka 300 kilogram plastik bisa menghasilkan sekitar 240 liter minyak. Tetapi minyak itu tidak otomatis setara dengan Pertalite, RON 92, atau solar. Ia perlu diuji lebih dahulu.
Berapa nilainya. Untuk menghitung secara sederhana, kita gunakan dua harga sasaran. Fraksi bensin olahan dihitung Rp8 ribu per liter, sedangkan fraksi solar olahan dihitung Rp5 ribu per liter. Angka ini bukan berarti produk tersebut otomatis boleh dijual sebagai Pertalite atau solar bersubsidi. Tetap ada persoalan standar mutu, pengujian, perizinan dan aturan distribusi yang harus dibereskan.
Dengan asumsi produksi 240 liter per hari, jika seluruhnya dihitung sebagai bensin olahan seharga Rp8 ribu per liter, nilai produksinya adalah:
240 liter × Rp8.000 = Rp1.920.000 per hari.
Jika mesin bekerja 300 hari setahun:
Rp1.920.000 × 300 = Rp576.000.000 per tahun.
Namun, jika seluruhnya dihitung sebagai solar olahan seharga Rp5 ribu per liter:
240 liter × Rp5.000 = Rp1.200.000 per hari.
Dalam 300 hari kerja:
Rp1.200.000 × 300 = Rp360.000.000 per tahun.
Kalau hasil produksinya berupa campuran, misalnya 100 liter fraksi bensin dan 140 liter fraksi solar, hitungannya menjadi:
100 liter × Rp8.000 = Rp800.000.
140 liter × Rp5.000 = Rp700.000.
Total nilai produksi = Rp1.500.000 per hari.
Dalam 300 hari kerja:
Rp1.500.000 × 300 = Rp450.000.000 per tahun.
Tentu jangan dihitung seperti pedagang gorengan yang hanya menghitung omzet. Ada biaya plastik. Ada tenaga kerja. Ada listrik atau bahan bakar pemanas. Ada biaya pemilahan dan pencacahan. Ada perawatan mesin, pengujian produk, penyusutan dan biaya keselamatan.
Kita ambil skenario yang cukup hati-hati. Misalnya seluruh biaya operasional mencapai Rp1,1 juta sehari. Jika seluruh produk berupa bensin olahan, pendapatan kotor sekitar Rp1,92 juta sehari. Maka sisa margin operasionalnya:
Rp1.920.000 - Rp1.100.000 = Rp820.000 per hari.
Dalam 300 hari kerja:
Rp820.000 × 300 = Rp246.000.000 per tahun.
Jika seluruh produk berupa solar olahan, pendapatan kotornya sekitar Rp1,2 juta sehari. Margin operasionalnya:
Rp1.200.000 - Rp1.100.000 = Rp100.000 per hari.
Dalam 300 hari kerja:
Rp100.000 × 300 = Rp30.000.000 per tahun.
Kalau komposisinya 100 liter bensin olahan dan 140 liter solar olahan, pendapatan kotornya sekitar Rp1,5 juta sehari. Margin operasionalnya:
Rp1.500.000 - Rp1.100.000 = Rp400.000 per hari.
Dalam 300 hari kerja:
Rp400.000 × 300 = Rp120.000.000 per tahun.
Dengan investasi awal Rp200 juta, skenario campuran menghasilkan perkiraan waktu pengembalian modal:
Rp200.000.000 ÷ Rp120.000.000 = sekitar 1,7 tahun.
Ini baru hitungan kasar. Belum memasukkan pajak, pembiayaan, biaya investasi tambahan, masa mesin berhenti, rendemen yang turun, atau biaya pengujian dan perizinan. Kalau harga produk turun, biaya operasional naik, atau bahan baku tidak konsisten, margin itu bisa mengecil bahkan hilang. Karena itu, angka tersebut bukan janji keuntungan, melainkan cara untuk melihat apakah proyeknya layak diuji.
Di sinilah pentingnya membedakan antara nilai ekonomi dan harga jual BBM. Produk pirolisis mungkin tidak layak dipaksa bersaing langsung dengan Pertalite bersubsidi. Nilainya bisa lebih masuk akal jika digunakan untuk kebutuhan tertentu, misalnya bahan bakar industri, boiler, genset, atau campuran setelah memenuhi standar dan memperoleh izin. Jadi pertanyaannya bukan sekadar “bisa dijual berapa per liter”, melainkan “siapa yang mau membeli, untuk kebutuhan apa, dan dengan spesifikasi seperti apa”.
Tetapi ada satu angka yang menurut saya jauh lebih menarik daripada keuntungan Rp30 juta, Rp120 juta atau Rp246 juta setahun. Yaitu 300 kilogram. Bayangkan kalau satu unit mesin mengurangi 300 kilogram sampah plastik dari TPA setiap hari. Setahun 300 hari operasi berarti:
300 kilogram × 300 hari = 90.000 kilogram.
Artinya, sekitar 90 ton plastik tidak perlu berakhir di tempat pembuangan. Kalau unitnya tiga:
90 ton × 3 = 270 ton plastik per tahun.
Di sinilah keuntungan yang jauh lebih besar mulai terlihat. Keuntungan rupiahnya bisa dihitung. Tetapi pengurangan sampah plastik juga punya nilai yang tidak kalah penting. TPA lebih lambat penuh. Sampah yang berpotensi menyumbat drainase berkurang. Risiko pencemaran lingkungan ikut ditekan. Masyarakat punya alasan ekonomi untuk memilah. Pemerintah tidak hanya mengeluarkan biaya untuk mengangkut dan menimbun sampah, tetapi mulai mengubah sebagian sampah menjadi bahan baku.
Dan kita sebenarnya bisa memulai lebih kecil. Kapasitas 100 kilogram sehari saja sudah menghasilkan sekitar 80 liter dengan asumsi rendemen yang sama. Jika seluruhnya dihitung sebagai bensin olahan:
80 liter × Rp8.000 = Rp640.000 per hari.
Jika seluruhnya dihitung sebagai solar olahan:
80 liter × Rp5.000 = Rp400.000 per hari.
Untuk pemerintah daerah, skala seperti ini lebih mudah dijadikan proyek percontohan daripada langsung bermimpi membangun megaproyek. Yang penting bukan hanya nilai rupiahnya, tetapi juga berapa banyak plastik yang berhasil dikeluarkan dari aliran sampah setiap hari.
Modelnya bahkan bisa dibuat lebih menarik. Pemerintah tidak perlu menjadi pedagang BBM. Pemerintah cukup menjadi pemilik ekosistemnya. Bank sampah seperti JAKI mengumpulkan dan memilah. Koperasi atau badan usaha daerah mengelola operasional. Perguruan tinggi menguji dan mengawasi kualitas. Pemerintah menyediakan fasilitas awal, memperbesar kapasitas, dan memastikan regulasi berjalan. Dunia usaha membeli produk sesuai aturan yang berlaku.
Di sini sampah berubah status. Dari biaya menjadi bahan baku. Warga tidak hanya diminta membuang sampah pada tempatnya. Mereka punya alasan ekonomi untuk memilahnya. Plastik yang selama ini dianggap tidak berharga menjadi punya harga. Orang mulai melihat tempat sampah bukan sebagai ujung perjalanan, tetapi sebagai awal dari rantai ekonomi baru.
Kalau pemerintah serius, satu kawasan bisa dibuat sebagai proyek percontohan. Tidak perlu seluruh Bengkulu. Satu kecamatan dulu. Libatkan BSI JAKI sebagai pelaksana awal, lalu tambah mesin dan kapasitasnya secara bertahap. Hitung berapa plastik yang masuk setiap hari. Hitung berapa yang bisa dijual. Hitung berapa yang bisa dipirolisis. Hitung biaya sebenarnya. Uji kualitas produknya. Cari pembeli yang jelas. Setelah enam bulan, baru bicara ekspansi.
Yang lebih penting lagi, jangan hanya membeli mesin. Ini kesalahan yang sering terjadi. Mesin datang dengan seremoni. Foto bersama. Mesin dinyalakan. Setelah beberapa bulan operator berganti. Plastik basah masuk. Plastik PVC ikut masuk. Mesin bermasalah. Akhirnya benda mahal itu berubah menjadi monumen teknologi di sudut halaman.
Karena itu teknologi harus datang bersama pengetahuan. Jenis plastik harus dipilah. Plastik seperti PVC tidak bisa diperlakukan sembarangan karena kandungan klorinnya dapat menimbulkan persoalan dalam proses. Kualitas bahan baku juga sangat menentukan kualitas produk. Jadi ini bukan sekadar memasukkan sampah lalu menunggu bensin keluar.
Lalu ada persoalan yang lebih besar. Apakah BBM dari plastik bisa menyelesaikan seluruh persoalan BBM Bengkulu. Tentu tidak. Jangan berlebihan. Produksi ratusan liter sehari tidak akan membuat antrean SPBU hilang besok pagi. Tetapi bukankah kebijakan yang baik memang tidak selalu harus menyelesaikan semuanya sekaligus.
Yang menarik justru cara berpikirnya. Bengkulu punya sampah. Bengkulu membutuhkan energi. Bengkulu punya kampus. Bengkulu punya anak muda seperti penggerak BSI JAKI. Bengkulu punya pemerintah daerah. Bengkulu juga punya masalah yang cukup banyak untuk dijadikan laboratorium inovasi. Yang kurang mungkin bukan sumber dayanya. Yang kurang adalah keberanian menghubungkan titik-titik itu.
Jadi persoalannya sebenarnya bukan apakah Bengkulu punya sampah. Kita sudah tahu jawabannya. Bukan pula apakah teknologi pirolisis ada. Sudah ada contohnya. Bahkan di Bengkulu sendiri sudah pernah dilakukan oleh BSI JAKI sejak 2023. Pertanyaannya jauh lebih sederhana dan sekaligus lebih berat. Mau atau tidak pemerintah memperkuat inisiatif itu dengan anggaran yang lebih masuk akal.
Sebab terkadang yang membuat sebuah daerah tertinggal bukan karena tidak memiliki teknologi. Teknologinya ada. Mesinnya ada. Orang pintarnya ada. Anak mudanya sudah bergerak. Uangnya, kalau untuk satu unit percontohan, sebenarnya juga ada.
Yang belum tentu ada adalah political will. Keberanian untuk melakukan refocusing anggaran. Keberanian untuk mengatakan bahwa tidak semua program harus dipaksakan hanya karena sudah masuk daftar anggaran. Bahwa persoalan sampah tidak harus selalu berakhir di TPA. Bahwa sampah plastik bisa menjadi bahan baku. Bahwa energi bisa diproduksi dalam skala komunitas. Dan bahwa pemerintah daerah sesekali boleh memperbesar inisiatif warga yang sudah terbukti berjalan.
Mungkin suatu hari nanti orang Bengkulu tidak lagi melihat plastik hanya sebagai sampah. Mereka melihatnya sebagai bahan baku yang punya harga. Mereka tidak lagi melihat antrean BBM sebagai sesuatu yang harus diterima begitu saja. Mereka mulai bertanya apakah sebagian kebutuhan energi bisa diproduksi sendiri. Kalau pertanyaan itu sudah muncul, sebenarnya perubahan sudah dimulai.
Sampah tetap akan datang besok pagi. Plastik tetap akan dibuang. Kendaraan tetap membutuhkan energi. Antrean mungkin juga belum hilang. Tetapi setidaknya kita sudah punya pilihan lain selain berdiri di belakang antrean dan mengeluh. Kadang sebuah daerah tidak membutuhkan mimpi yang terlalu besar. Cukup satu inisiatif anak muda, satu keberanian pemerintah untuk memperbesar, satu refocusing anggaran, dan satu keputusan untuk berkata: daripada membiayai program yang belum jelas jalan, kita coba dulu yang sudah terbukti.







