Andi Azhar
  • Beranda
  • Mimbar
    • Khazanah Islam
    • Kolak Pisang
    • Pendidikan
    • Sosial Politik
    • Persyarikatan
    • #SeloSeloan
    • Perguruan Tinggi
    • Sains Teknologi
    • Financial Teknologi
    • Bengkulu
    • Bisnis
  • Lakon
    • Formosa
    • Nusantara
    • Ramadhan Bercerita
  • Soneta
  • Interlokal
    • Education
    • Politic
    • Technology
    • Economic
  • Pariwara
    • Competition
    • Endorsement
    • Komiku
  • Jejak
  • Sangu
    • MoE Taiwan
    • HES Taiwan
    • ICDF Taiwan
  • Hubungi Kami

Manusia modern itu unik, sudah punya alat canggih di saku celana tapi masih saja merindukan benda-benda masa lalu yang fungsinya sudah usang. Kita hidup di zaman di mana kecerdasan buatan bisa menulis puisi dan mobil bisa menyetir sendiri, tapi birokrasi di salah satu daerah di Negeri Hitam Putih ini sepertinya masih terjebak di era mesin ketik. Kabar terbaru yang bikin alis saya hampir menyatu dengan garis rambut adalah rencana pengadaan kalender dinding tahun 2026 dengan anggaran fantastis mencapai 1,9 miliar rupiah. Angka nolnya berbaris rapi seperti pasukan pengibar bendera, siap menguras kas daerah demi selembar penunjuk tanggal yang nasib akhirnya cuma jadi penutup noda di tembok.

Mari kita bedah angka "wah" ini dengan kalkulator warung kopi biar terasa nalar atau tidaknya. Kabarnya, kalender ini diperuntukkan bagi 45 anggota dewan yang masing-masing mendapat jatah 500 eksemplar untuk disebar ke konstituen. Kalau dihitung pakai matematika dasar anak SD, total kalender yang dicetak adalah 22.500 buah. Nah, jika uang 1,9 miliar itu dibagi rata dengan jumlah cetakan, ketemulah harga pokok produksi per satu kalender di angka sekitar 85 ribu rupiah. Gusti, ini kalender dinding atau menu eksklusif restoran bintang lima? Harga segitu untuk sekadar kertas yang digantung rasanya kok menyakiti hati dompet rakyat jelata.

Ilustrasi (Gambar : AI Generated)

Padahal kalau kita main ke percetakan umum atau mengecek harga pasar, kalender dinding kualitas premium dengan jilid spiral besi paling mahal jatuhnya di kisaran 15 ribu sampai 25 ribu rupiah saja. Itu pun kertasnya sudah art paper tebal yang licinnya ngalahin lantai baru dipel. Lha ini kok bisa tembus 85 ribu? Apa mungkin tintanya dicampur serbuk emas atau kertasnya diimpor langsung dari pohon papirus yang ditanam di tepi Sungai Nil? Selisih harganya yang begitu jomplang membuat kita bertanya-tanya, fitur ajaib apa yang ditanamkan di kalender itu sampai harganya bisa buat beli paket data setahun.

Katanya sih, spesifikasi kalendernya memang "khusus" dengan isi 6 lembar, yang artinya satu lembar memuat dua bulan. Tapi begini lho, mau sekhusus apa pun jenis kertasnya, mau setebal apa pun gramaturnya, takdir kalender itu ya cuma satu: disobek. Begitu bulan Februari berakhir dan kita masuk Maret, lembar pertama yang harganya mahal itu otomatis jadi sampah tak berguna. Tidak mungkin kan kita membiarkan lembar Januari-Februari tetap terpajang hanya karena sayang kertasnya bagus? Logika "kertas khusus" ini gugur seketika saat berhadapan dengan fungsi kalender yang terikat waktu.

Coba kita bandingkan soal selera estetika antara kalender jatah wakil rakyat dengan kalender toko emas atau bank yang biasanya bergambar pemandangan. Jujur saja, mata kita jauh lebih rileks memandang gambar pegunungan Swiss yang hijau, sawah Ubud yang asri, atau air terjun yang sejuk ketimbang menatap wajah close-up bapak-bapak politisi yang tersenyum kaku. Kalender pemandangan itu punya fungsi terapeutik, bisa bikin adem pikiran saat tanggal tua menyerang. Sedangkan kalender wajah pejabat? Malah bikin kita ingat pajak, ingat jalan rusak, dan ingat janji kampanye yang belum lunas.

Fungsi sekunder kalender di rumah rakyat Indonesia itu biasanya untuk menutupi bagian tembok yang catnya mengelupas atau retak rambut. Nah, kalau yang dipajang adalah gambar danau Toba yang indah, tembok jelek pun jadi terlihat agak artistik dan menenangkan jiwa. Tapi kalau yang dipajang adalah foto politisi dengan pose mengepal tangan, nuansa ruang tamu malah jadi tegang seperti mau ada orasi politik. Secara psikologis, rakyat itu lebih butuh hiburan visual di dinding rumahnya, bukan intimidasi visual dari wajah-wajah yang sering muncul di berita kasus korupsi.

Lagipula, urgensi mencetak kalender fisik di tahun 2026 nanti itu sebenarnya nyaris mendekati nol besar. Coba rogoh saku celana atau tas Anda sekarang, pasti ada benda kotak bernama ponsel pintar yang menyala 24 jam. Di dalamnya sudah ada fitur kalender canggih yang terintegrasi dengan alarm, pengingat ulang tahun, bahkan jadwal rapat RT. Kalender digital di HP tidak perlu disobek, tidak berdebu, dan tidak akan salah cetak tanggal merahnya karena terupdate otomatis via internet.

Terus, kalau alasannya kalender ini dipakai sebagai media "laporan kinerja" wakil rakyat, rasanya kok ya kurang tepat sasaran. Memangnya seberapa banyak narasi laporan yang bisa ditulis di sela-sela angka tanggal dalam 6 lembar kertas itu? Paling-paling isinya cuma slogan normatif semacam "Bekerja Bersama Rakyat" atau "Siap Mengawal Aspirasi". Itu bukan laporan kinerja, Bos, itu namanya copywriting iklan baris. Kalau mau laporan yang detail dan transparan, ya bukan di kalender tempatnya, tapi di dokumen resmi atau minimal website yang bisa diakses publik.

Zaman sekarang ini ada yang namanya media sosial, barang gratisan yang dampaknya jauh lebih masif daripada kertas gantung. Kalau para wakil rakyat itu benar-benar ingin konstituennya tahu apa yang sudah mereka kerjakan, bikin saja konten TikTok atau Reels Instagram. Biayanya murah, cuma modal kuota dan kreativitas admin, tapi yang nonton bisa ribuan orang sambil rebahan. Aneh rasanya kalau masih ngotot pakai cara konvensional yang mahal padahal ada jalan tol digital yang gratis dan cepat sampai.

Kita juga tidak boleh lupa soal nasib akhir dari kalender mahal seharga 85 ribu per eksemplar itu setelah tahun berganti. Nasib terbaiknya mungkin jadi sampul buku pelajaran anak SD, tapi nasib terburuknya (dan yang paling sering terjadi) adalah jadi alas lemari atau bungkus cabai di pasar. Bayangkan, uang rakyat miliaran rupiah berakhir menjadi pembungkus terasi atau tatakan obat nyamuk bakar. Ironi semacam ini harusnya bikin kita elus dada, betapa mubazirnya anggaran yang dibakar demi gengsi sesaat.

Di tengah kondisi ekonomi yang serba sulit, di mana harga beras naik turun dan cari kerja makin susah, rasanya tidak etis menghamburkan 1,9 miliar untuk barang yang umurnya cuma setahun. Uang segitu kalau dibelikan sembako lalu dibagikan ke warga miskin, pahalanya jelas mengalir deras dan doanya tulus menembus langit. Atau kalau mau lebih visioner, pakai buat beasiswa anak putus sekolah di dapil masing-masing. Itu jauh lebih membekas di hati rakyat daripada sekadar dikasih kertas tanggalan yang ujung-ujungnya masuk tong sampah.

Tapi ya mungkin bagi sebagian pejabat di Negeri Hitam Putih sana, proyek fisik itu jauh lebih "seksi" daripada program digital atau bantuan langsung. Ada kepuasan tersendiri mungkin saat melihat tumpukan ribuan kalender siap edar, seolah-olah itu bukti kerja nyata. Padahal kerja nyata itu diukur dari regulasi yang pro-rakyat dan pengawasan anggaran yang ketat, bukan dari seberapa banyak wajah mereka tercetak di kertas art carton gramasi tinggi.

Saya kadang curiga, jangan-jangan "permintaan masyarakat" yang sering dijadikan alasan itu cuma tameng saja. Memang benar ada warga yang minta kalender, tapi itu karena mentalitas gratisan, bukan karena mereka butuh banget. Kalau ditanya milih mana antara dikasih kalender seharga 85 ribu atau dikasih uang tunai 50 ribu saja, saya yakin 100 persen warga bakal milih uangnya. Jadi, argumen bahwa ini demi memenuhi hasrat konstituen itu sebenarnya argumen yang rapuh dan mudah sekali dipatahkan.

Satu lagi yang bikin gemes, desain kalender dinas itu sering kali ajaib dan bikin sakit mata desainer grafis. Warnanya tabrak lari, font-nya tidak konsisten, dan foto pejabatnya sering kali maksa ditempel di background yang tidak nyambung. Bayangkan uang 1,9 miliar menghasilkan karya visual yang estetika desainnya setara dengan poster hajatan dangdut keliling. Mubazirnya jadi dobel, mubazir uang dan mubazir selera seni.

Akhirul kalam, wahai bapak dan ibu yang duduk di kursi empuk dewan, tolonglah berhenti terjebak pada romantisme proyek masa lalu. Rakyat tidak butuh wajah kalian terpampang di dinding rumah mereka untuk tahu tanggal berapa sekarang. Rakyat butuh kehadiran kalian saat harga pupuk mahal, saat sekolah rusak, dan saat jalan berlubang. Simpan saja uang 1,9 miliar itu untuk sesuatu yang lebih berguna, atau kalau bingung mau dikemanakan, sumbangkan saja buat bayar utang negara, siapa tahu bisa ngurangin dosa jariyah pemborosan.

Rutinitas pagi saya yang biasanya berjalan lambat dan syahdu mendadak terusik saat jempol ini iseng berselancar di status WhatsApp kawan saya. Di layar ponsel yang resolusinya pas-pasan itu, muncul sebuah foto anak laki-laki berusia sekitar satu tahun yang sedang duduk manis di sofa. Keterangan fotonya cukup informatif, mengabarkan bahwa si buah hati baru saja selesai menunaikan kewajiban sebagai laki-laki muslim, alias sunat. Saya termangu sebentar, mencoba mencerna fakta bahwa bocah yang jalan saja mungkin masih sering nggeblak itu sudah kehilangan bagian tubuhnya yang paling privat. Rasanya baru kemarin sore bapaknya mengundang saya makan soto di acara aqiqahan, lha kok sekarang anaknya sudah berstatus khitanan. Waktu berjalan dengan kecepatan yang tidak sopan bagi kita yang makin tua ini.

Ilustrasi (Gambar : AI Generated)

​Pergeseran zaman memang sering kali membuat nalar saya yang konservatif ini tergopoh-gopoh mengikuti logikanya yang kian pragmatis. Dulu, di era saya masih hobi memburu layangan putus, sunat adalah sebuah monumen kedewasaan yang sakral bagi anak laki-laki menjelang remaja. Kami biasanya disunat saat duduk di bangku sekolah dasar kelas lima atau enam, sebuah usia di mana kami sudah cukup mengerti arti rasa cemas. Hari-hari menjelang eksekusi adalah momen kontemplasi panjang yang melatih mental kami menghadapi ketidakpastian nasib di tangan Pak Mantri. Ada unsur heroik yang kental ketika seorang bocah berani melangkah masuk ke bilik sunat dengan sarung yang dikalungkan di leher. Kini, heroisme itu seolah dipangkas habis karena prosesi sakral tersebut dilakukan saat si anak belum mengerti apa-apa soal dunia.

​Tentu saja, para orang tua milenial punya segudang argumen medis yang sangat masuk akal dan sulit dibantah oleh orang awam seperti saya. Katanya, sunat di usia balita jauh lebih cepat sembuhnya karena regenerasi sel kulit anak kecil sedang bagus-bagusnya. Selain itu, menyunat anak saat masih bayi menghindarkan orang tua dari drama kolosal berupa rengekan dan amukan bocah SD yang ketakutan. Praktis, efisien, dan minim trauma adalah mantra utama pengasuhan modern yang mendasari keputusan sunat dini tersebut. Kami yang dulu harus berjalan mengangkang selama seminggu penuh sembari menahan ngilu di balik sarung jelas dianggap kuno dan kurang taktis. Kenangan perih saat luka sunat tersenggol kain kasar itu tampaknya tidak lagi dianggap sebagai kurikulum wajib menuju kedewasaan.

​Namun, mata saya kemudian tertumbuk pada satu objek janggal yang ikut terpotret di samping si bocah yang sedang tersenyum itu. Ada sebuah lembaran kertas tebal dengan desain bingkai ornamen yang cukup mentereng, mirip sekali dengan piagam penghargaan lomba cerdas cermat. Setelah saya amati lebih teliti, rupanya itu adalah sertifikat sunat resmi yang diterbitkan oleh klinik tempat si bocah menjalani prosedur. Seketika dahi saya berkerut, mencoba mencari relevansi dan urgensi dari selembar kertas yang melegitimasi hilangnya kulup seseorang. Sejak kapan urusan memotong kulit kemaluan membutuhkan bukti tertulis yang divalidasi stempel basah layaknya dokumen negara?

​Keberadaan sertifikat sunat ini memantik imajinasi liar saya tentang betapa birokrasi di negeri ini mungkin sedang merambah ke wilayah yang paling intim. Jangan-jangan, sertifikat ini nantinya akan menjadi dokumen prasyarat yang wajib dilampirkan saat mendaftar sekolah melalui jalur zonasi atau prestasi. Bayangkan betapa repotnya panitia Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) jika harus memverifikasi keaslian sertifikat sunat di antara tumpukan Kartu Keluarga dan Akta Kelahiran. Nasib nahas tentu akan menimpa anak-anak yang disunat oleh dukun sunat tradisional atau mantri senior di kampung yang tidak memiliki fasilitas cetak sertifikat. Mereka akan terancam gagal administrasi hanya karena "burung" mereka tidak memiliki akreditasi tertulis yang diakui oleh sistem pendidikan nasional.

​Saya mencoba berbaik sangka, mungkin sertifikat ini hanyalah bentuk gimmick pemasaran klinik untuk menyenangkan hati orang tua yang haus akan validasi. Namun, kalau dipikir-pikir lagi, memajang sertifikat sunat di ruang tamu rasanya adalah sebuah keputusan estetika interior yang sangat wagu. Tamu yang berkunjung mungkin akan terjebak dalam kecanggungan luar biasa saat harus memberi selamat atas prestasi si anak yang tertulis di pigura itu. Apa yang harus dikatakan? "Wah, selamat ya, pemotongannya rapi sekali dan terverifikasi," begitu? Rasanya kok absurd sekali jika bukti medis pembuangan jaringan kulit mati disejajarkan dengan piagam kejuaraan karate atau sertifikat kursus bahasa Inggris.

​Pikiran saya kemudian melayang lebih jauh ke dunia kerja yang persyaratannya sering kali menuntut hal-hal di luar nalar manusia normal. Siapa yang bisa menjamin kalau lima belas tahun lagi, sertifikat sunat tidak menjadi syarat mutlak rekrutmen pegawai di perusahaan bonafide? Mungkin nanti di formulir lamaran kerja, ada kolom centang khusus yang menanyakan kepemilikan sertifikat sunat sebagai bukti integritas dan kebersihan pelamar. HRD perusahaan bisa saja beralasan bahwa calon karyawan yang memiliki sertifikat sunat adalah pribadi yang taat prosedur dan peduli pada detail administrasi. Bagi mereka yang sunatnya tidak bersertifikat, siap-siap saja kalah saing dan tersingkir di tahap seleksi berkas yang kejam itu.

​Lalu bagaimana jika fungsi sertifikat ini ternyata jauh lebih fundamental, yakni sebagai dokumen pendukung dalam urusan perjodohan dan pernikahan? Di masa depan, bukan tidak mungkin calon mertua akan menuntut bukti otentik kejantanan calon menantunya secara administratif sebelum memberikan restu. Ini adalah cara paling sopan dan birokratis untuk memastikan bahwa calon menantu sudah menunaikan kewajiban agamanya tanpa harus melakukan inspeksi visual yang memalukan. Cukup sodorkan map berisi sertifikat sunat, maka calon mertua bisa tersenyum lega karena putri mereka berada di tangan laki-laki yang "terstandarisasi". Sertifikat sunat menjadi semacam garansi mutu atau SNI-nya seorang suami di mata hukum adat dan keluarga.

​Fenomena ini sebenarnya mencerminkan betapa masyarakat kita sedang mengalami krisis kepercayaan yang akut, bahkan untuk hal-hal yang sifatnya sangat personal. Dulu, pengakuan lisan seorang laki-laki bahwa ia sudah disunat adalah sebuah kebenaran mutlak yang tidak perlu digugat dengan bukti forensik. Kepercayaan antar manusia masih dijunjung tinggi tanpa perlu perantara secarik kertas yang ditandatangani di atas materai sepuluh ribu. Namun kini, di era di mana segala sesuatu bisa dipalsukan, omongan saja dianggap angin lalu yang tidak memiliki kekuatan hukum tetap. Kita hidup di zaman di mana validitas seseorang ditentukan oleh seberapa lengkap arsip dokumen yang ia miliki di lemari besi.

​Jika ditelaah dari sisi ekonomi, tren sertifikasi sunat ini jelas merupakan strategi bisnis yang brilian dari industri kesehatan modern. Dengan menambahkan selembar kertas sertifikat yang biaya cetaknya mungkin tak seberapa, klinik bisa menaikkan harga paket sunat dengan label "eksklusif" atau "premium". Orang tua masa kini yang sangat peduli pada citra dan status sosial tentu akan lebih memilih paket bersertifikat demi konten Instagram yang aesthetic. Mereka rela merogoh kocek lebih dalam asalkan pulang membawa bukti fisik yang bisa dipamerkan, daripada sekadar membawa anak yang perbannya masih basah. Esensi sunat sebagai ibadah atau kesehatan pun perlahan tergeser menjadi komoditas gaya hidup yang transaksional.

​Saya jadi merasa kasihan pada nasib generasi saya dan generasi bapak-bapak saya yang dulu sunatnya hanya bermodalkan doa dan keahlian tangan dingin Bengkong desa. Kami adalah generasi "ilegal" yang tidak memiliki bukti otentik atas status kesunatan kami jika diukur dengan standar administrasi kekinian. Jika suatu hari nanti negara mewajibkan sensus sunat nasional berbasis dokumen, kami pasti akan dianggap sebagai warga negara yang datanya tidak valid. Kami hanya bisa pasrah menunjukkan bekas jahitan yang mungkin sudah samar termakan usia sebagai satu-satunya pembelaan diri di hadapan petugas. Sungguh sebuah ironi struktural yang menyedihkan bagi kami, kaum laki-laki tanpa sertifikat.

​Mungkin juga sertifikat itu disiapkan sebagai arsip sejarah bagi si anak itu sendiri, mengingat ia disunat di usia yang memori otaknya belum mampu merekam kejadian. Nanti saat ia dewasa dan meragukan identitas dirinya, ibunya tinggal membuka laci dan menunjukkan sertifikat itu sebagai bukti sejarah yang tak terbantahkan. Ini adalah solusi praktis untuk menjawab pertanyaan eksistensial si anak tanpa perlu melakukan verifikasi fisik yang merepotkan. Sertifikat itu menjadi saksi bisu bahwa ia pernah melewati momen penting tersebut, meskipun ia sendiri sama sekali tidak ingat bagaimana rasanya. Sebuah kenang-kenangan yang unik, meski fungsinya lebih mirip nota tagihan daripada memorabilia.

​Saya juga penasaran, apakah di dalam sertifikat itu tercantum detail teknis mengenai metode sunat yang digunakan oleh sang dokter? Apakah tertulis dengan tinta emas: "Telah disunat dengan metode Smart Clamp Laser Turbo" sebagai penanda kasta sosial? Hal ini bisa memicu stratifikasi sosial baru di kalangan anak-anak, di mana mereka saling membandingkan kecanggihan metode sunat berdasarkan sertifikat masing-masing. Anak yang sunat dengan metode konvensional gunting dan jahit mungkin akan merasa minder di hadapan teman-temannya yang sunat laser. Jika sudah begini, sunat bukan lagi soal kesucian, melainkan ajang pamer teknologi yang tidak ada habisnya.

​Kita memang sedang bergerak menuju masyarakat yang terobsesi pada dokumentasi dan validasi tertulis untuk setiap inci kehidupan biologi kita. Mungkin sebentar lagi akan muncul sertifikat akil baligh bagi remaja, atau sertifikat tumbuh gigi bagi bayi, lengkap dengan tanggal dan jam kejadiannya. Semua fase kehidupan manusia harus dirayakan, dicatat, dan diberi bingkai agar terasa sah dan diakui oleh peradaban. Hidup tidak lagi dirasakan melalui pengalaman batin, melainkan divalidasi melalui tumpukan kertas yang memenuhi lemari arsip keluarga. Kita menjadi birokrat bagi tubuh dan perjalanan hidup kita sendiri.

​Pada akhirnya, saya hanya bisa mendoakan semoga anak kawan saya itu tumbuh menjadi pemuda yang saleh dan tangguh, terlepas dari sertifikat yang ia miliki. Biarlah kertas itu menjadi misteri yang akan ia tertawakan sendiri kelak saat ia sudah cukup dewasa untuk memahami betapa absurdnya kelakuan orang tuanya. Saya sendiri akan tetap bangga dengan "aset" saya yang meskipun tanpa sertifikat, namun telah teruji oleh waktu dan pengalaman hidup. Lagipula, keaslian dan fungsionalitas sebuah "barang" tidak ditentukan oleh selembar kertas, melainkan oleh performanya di lapangan. Dan untuk urusan itu, saya yakin seyakin-yakinnya, kami kaum tanpa sertifikat masih sangat bisa diandalkan.

Suasana sore di kawasan Pantai Panjang, Bengkulu, memang selalu menawarkan romantisme tersendiri yang sulit ditolak oleh siapa saja yang melewatinya. Tepat di pertigaan ramai dekat Bencoolen Mall, mata saya tertumbuk pada penjual kelinci yang berderet rapi di pinggir jalan utama. Entah angin apa yang membawa saya, tiba-tiba saja mobil menepi dan saya memutuskan membeli kelinci yang lucu itu. Alasannya sebenarnya sangat sederhana dan tidak muluk-muluk, yakni saya hanya ingin menumbuhkan rasa kasih sayang di hati anak-anak kepada sesama makhluk hidup. Kita harus sadar sepenuhnya bahwa binatang adalah ciptaan Tuhan yang bernyawa, sama halnya dengan manusia yang butuh dikasihi. Dengan merawat kelinci, anak-anak akan belajar tanggung jawab, belajar memberi makan, dan belajar membersihkan kotoran setiap hari. Itu adalah pelajaran moral yang tidak didapatkan di bangku sekolah manapun, bahkan di universitas ternama sekalipun.

Sebenarnya kehadiran hewan peliharaan di rumah kami bukanlah hal yang benar-benar baru, karena sebelumnya sudah ada penghuni lain. Dulu ada seekor kucing yang entah datang dari mana, mungkin kucing liar yang nasibnya sedang beruntung menemukan rumah kami. Karena rasa iba, kami rutin memberinya makan, sampai akhirnya ia menjadi jinak dan betah berlama-lama di teras rumah. Bulunya putih bersih dan cantik sekali, wajahnya mirip persilangan antara kucing Persia mahal dengan kucing kampung biasa. Namun, nasib malang tak dapat ditolak, kebahagiaan itu ternyata tidak berlangsung lama bagi keluarga kami. Saat kucing itu baru saja melahirkan anak-anaknya yang lucu, ia tiba-tiba hilang diambil orang yang tidak bertanggung jawab. Sedih rasanya, tapi mungkin itulah yang memicu keinginan kuat kami untuk kembali memelihara hewan, kali ini kelinci.

Ilustrasi Kelinci
Ilustrasi (Gambar : AI Generated)

Kembali ke soal kelinci tadi, ada satu fakta mengejutkan yang baru saja menampar logika saya yang selama ini keliru. Sejak kecil, kita seolah-olah dicekoki oleh dogma tontonan televisi bahwa makanan pokok kelinci adalah wortel dan kangkung. Tokoh kartun Bugs Bunny dengan wortel di tangannya adalah penipu ulung yang sukses menyesatkan jutaan orang di dunia, termasuk saya. Ternyata, memberi makan wortel dan sayuran basah secara terus-menerus adalah kesalahan fatal dalam dunia perkelincian. Sayuran itu mengandung gas dan kadar air tinggi yang justru membuat perut kelinci menjadi kembung dan begah. Tak jarang hal ini menyebabkan diare parah yang berujung pada kematian mendadak pada kelinci peliharaan. Pantas saja banyak orang bilang memelihara kelinci itu susah dan gampang mati, ternyata pakannya yang salah kaprah.

Pencerahan itu datang dari si penjual kelinci di pinggir jalan yang mewanti-wanti saya dengan wajah serius. Ia melarang keras saya memberikan sayuran segar sebagai menu utama, sebuah saran yang terdengar aneh di telinga orang awam. Ia menyarankan agar kelinci diberi pelet atau pur khusus yang sudah diformulasikan untuk kebutuhan gizi hewan pengerat itu. Namun, ia menambahkan satu hal lagi, jika ingin variasi yang sehat, berikanlah rumput hay atau rumput kering. Secara spesifik ia menyebut nama Timothy Hay, sebuah istilah yang terdengar sangat kebarat-baratan dan asing bagi telinga orang kampung seperti saya. Ia menjelaskan bahwa serat kasar dalam rumput itulah kunci kesehatan pencernaan kelinci agar bisa berumur panjang. Saya manggut-manggut saja, meski dalam hati masih bertanya-tanya makhluk macam apa itu rumput hay.

Rasa penasaran yang membuncah memaksa jari-jari saya menari di layar ponsel untuk mencari tahu lebih lanjut. Mesin pencari Google menyajikan deretan gambar dan penjelasan ilmiah tentang apa itu Timothy Hay dan manfaat ajaibnya. Karena ingin yang terbaik untuk si kelinci, saya pun mencoba memesan setengah kilogram secara online untuk membuktikannya. Ketika paket itu datang, saya amati barangnya baik-baik dengan mata telanjang di bawah lampu terang. Bentuknya sungguh di luar dugaan saya karena warnanya cokelat, kering, krispi, dan baunya persis seperti aroma kebun di musim kemarau. Ini benar-benar mirip rumput liar yang biasa tumbuh di semak-semak belakang rumah, bedanya hanya ini sudah dikeringkan. Tidak ada bedanya dengan rumput ilalang yang sering kita abaikan begitu saja saat berjalan kaki pagi.

Namun, reaksi si kelinci saat disodori rumput kering itu sungguh di luar nalar manusia pada umumnya. Mereka menyerbu tumpukan rumput kering itu dengan nafsu makan yang meledak-ledak, seolah itu adalah hidangan bintang lima. Suara kriuk-kriuk terdengar renyah saat gigi mereka mengunyah batang-batang rumput yang bagi kita tampak seperti sampah itu. Setengah kilogram rumput hay yang saya beli ludes tak bersisa hanya dalam hitungan beberapa hari saja. Alhasil, pos pengeluaran bulanan saya pun bertambah satu item baru yang cukup rutin yakni belanja rumput kering. Tentu saja ini membuat saya geleng-geleng kepala melihat betapa lahapnya mereka memakan "uang" saya. Tapi melihat mereka sehat dan lincah, rasa berat mengeluarkan uang itu sedikit terobati.

Malamnya saya merenung, memikirkan betapa uniknya situasi ekonomi yang sedang saya jalani saat ini. Saya membeli rumput, sebuah komoditas yang dalam nalar orang Indonesia bukanlah barang dagangan yang lazim. Bagi saya, ini adalah sebuah usaha yang sedikit nyeleneh namun faktanya uang berputar deras di sana. Di kampung halaman saya dulu, rumput adalah musuh bebuyutan para petani dan pemilik kebun yang harus dibasmi. Orang bebas "mengarit" rumput di mana saja, kapan saja, tanpa perlu izin dan tanpa perlu membayar sepeser pun. Rumput tumbuh liar, bebas, dan gratis, tersedia melimpah ruah disediakan oleh alam semesta.

Bahkan saking tidak berharganya rumput di mata masyarakat kita, orang rela keluar uang banyak untuk membunuhnya. Lihatlah para petani yang harus membeli racun rumput, menyemprotkannya berliter-liter agar tanaman liar itu mati dan mengering. Mereka keluar biaya tenaga, waktu, dan uang hanya untuk memusnahkan apa yang sekarang saya beli dengan harga mahal. Padahal, rumput itu punya daya hidup yang luar biasa karena disemprot mati, minggu depan sudah tumbuh lebat lagi. Siklus ini terus berulang dari tumbuh, diracun, mati, tumbuh lagi, dan diracun lagi tanpa henti. Tidak pernah terlintas di benak orang kampung saya bahwa "sampah" yang mereka racun itu bisa dimasukkan plastik dan dijual. Sungguh sebuah ironi yang menggelitik nalar bisnis siapa saja yang jeli melihatnya.

Sepanjang yang saya tahu selama hidup puluhan tahun, tidak ada orang jualan rumput liar secara terang-terangan. Kalaupun ada yang jual rumput, pastilah itu jenis rumput gajah mini untuk taman rumah orang kaya atau lapangan golf. Atau paling banter rumput fatimah yang konon khasiatnya untuk melancarkan persalinan ibu-ibu hamil yang mau melahirkan. Tapi menjual rumput liar yang dikeringkan untuk pakan hewan adalah sebuah anomali pasar yang sangat menarik. Tidak ada toko kelontong yang memajang rumput kering di etalase mereka bersanding dengan rokok dan sabun mandi. Ini adalah ceruk pasar yang tersembunyi, yang tidak terlihat oleh mata telanjang para pebisnis konvensional. Tapi karena ada permintaan dari para pecinta kelinci, pasar itu tercipta dengan sendirinya.

Inilah hebatnya manusia, karena ada masalah seperti kelinci butuh serat, muncullah inovasi yang menjadi solusi bisnis. Para penjual ini dengan cerdik mengemas rumput liar, mengeringkannya dengan teknologi atau sinar matahari, lalu memberinya label harga. Jangan kaget, harganya sungguh tidak main-main dan bisa bikin dompet bergetar, yaitu 30 ribu rupiah per kilogramnya. Bayangkan, harga sekilo rumput kering ini lebih mahal daripada harga sekilo beras kualitas medium di pasar tradisional. Jika saya hanya memelihara sepasang kelinci, satu kilogram itu habis dalam waktu seminggu saja tanpa sisa. Artinya, dalam satu bulan, saya butuh setidaknya 4 kilogram rumput hay untuk menjaga perut mereka tetap kenyang.

Situasi menjadi semakin menantang bagi dompet saya ketika hukum alam mulai bekerja pada peliharaan kami. Sepasang kelinci itu ternyata sangat produktif, dan tak lama kemudian lahirlah 6 ekor bayi kelinci yang mungil. Total jenderal kini ada 8 mulut yang harus diberi makan setiap harinya di kandang belakang rumah kami. Kebutuhan akan pasokan rumput hay pun melonjak tajam, berlipat-lipat dari perhitungan anggaran awal saat membeli. Ini bukan lagi sekadar hobi memelihara binatang, ini sudah menjadi pos pengeluaran tetap layaknya membayar listrik atau air. Tapi di balik pusingnya kepala memikirkan biaya pakan, otak bisnis saya justru berputar kencang.

Coba Anda bayangkan sejenak, berapa besar potensi perputaran uang di balik bisnis rumput kering ini. Saya pernah membawa topik tentang potensi bisnis "receh" tapi menguntungkan ini ke hadapan mahasiswa saya di kampus. Kebetulan semester ini saya diamanahi mengajar 5 kelas mata kuliah Kewirausahaan dari 3 program studi dan fakultas yang berbeda. Saya mewajibkan setiap mahasiswa untuk tidak hanya berteori, tapi benar-benar terjun menjalankan project wirausaha nyata di lapangan. Salah satu ide tak lazim yang saya lontarkan dan saya dorong kepada mereka adalah mencoba bisnis jualan rumput ini. Reaksi mereka sudah bisa saya tebak, mereka bengong, melongo, dan menatap saya dengan tatapan tidak percaya.

Di benak para mahasiswa milenial dan Gen Z itu, bisnis rumput adalah sesuatu yang sangat aneh dan rendahan. Bagi mereka, yang namanya bisnis itu ya jualan kopi kekinian, thrifting baju bekas, atau bikin aplikasi startup. Kalaupun harus jualan pakan hewan, bayangan mereka adalah menjadi reseller pur atau pelet pabrikan yang kemasannya mentereng. Menjual rumput, dalam persepsi mereka, adalah pekerjaan tukang ngarit di desa, bukan pekerjaan mahasiswa calon sarjana. Mereka tidak bisa melihat bahwa di balik tumpukan rumput kering itu tersimpan lembaran rupiah yang nyata. Mentalitas gengsi inilah yang seringkali menjadi tembok penghalang terbesar bagi pengusaha muda untuk memulai.

Lalu saya coba jelaskan simulasi hitungan bisnisnya di papan tulis agar mata dan nalar mereka terbuka lebar. Mari kita asumsikan harga jual rumput Timothy Hay ini di pasaran adalah Rp 30.000 per kilogram. Modal bahan bakunya nyaris nol rupiah jika kita mau sedikit rajin mencari rumput liar jenis tertentu di lahan kosong. Biaya yang keluar mungkin hanya untuk bensin transportasi, tenaga untuk menyabit, dan proses pengeringan yang mengandalkan matahari. Taruhlah biaya operasional dan kemasan plastik klip yang rapi memakan biaya Rp 5.000 per kilonya. Maka, keuntungan bersih yang bisa dikantongi adalah Rp 25.000 untuk setiap satu kilogram rumput yang terjual. Margin keuntungannya mencapai ratusan persen, angka yang mustahil didapat dari jualan pulsa.

Mari kita bermain angka lebih jauh lagi, jika dalam sehari Anda bisa menjual 10 kilogram saja secara rutin. Itu artinya Anda sudah mengantongi keuntungan bersih Rp 250.000 per hari, setara dengan gaji manajer level menengah. Kalikan dengan 30 hari, maka omzet bersih sebulan bisa mencapai Rp 7.500.000 hanya dari berjualan rumput kering. Itu baru hitungan moderat, belum jika Anda mensuplai ke toko-toko hewan atau komunitas pecinta kelinci. Pasarnya sangat spesifik atau niche, tapi pembelinya adalah orang-orang fanatik yang rela keluar uang demi kesehatan hewan. Pemilik hewan peliharaan adalah konsumen yang irasional, mereka tidak peduli harga asalkan "anak bulu" mereka sehat.

Saya jelaskan juga bahwa kuncinya ada pada pencitraan merek atau branding serta pengemasan yang membuat rumput itu naik kelas. Jangan jual dengan nama "rumput liar kering", itu tidak akan laku dan terdengar sangat murahan di telinga. Gunakanlah nama latin atau nama dagang internasional seperti "Local Timothy Hay" atau "Premium Dried Grass". Masukkan ke dalam kemasan standing pouch yang bening, beri stiker logo yang desainnya estetik dan kekinian. Dengan sentuhan sedikit kreativitas, rumput yang tadinya diinjak-injak orang bisa berubah menjadi komoditas premium yang diburu pembeli. Nilai tambah inilah yang membedakan antara tukang ngarit biasa dengan pengusaha pakan ternak modern.

Mahasiswa saya mulai tampak berpikir, dahi mereka berkerut mencerna logika yang saya sampaikan dengan berapi-api di depan kelas. Saya tekankan bahwa rumput Timothy yang asli memang impor, biasanya dari Amerika atau Kanada, makanya harganya mahal. Tapi, Indonesia ini tanah surga, tongkat kayu dan batu jadi tanaman, masa kita tidak bisa mencari substitusinya? Banyak jenis rumput lokal yang memiliki tekstur dan kandungan serat mirip dengan rumput impor tersebut jika diproses dengan benar. Tantangannya adalah riset, mencari jenis rumput lokal mana yang aman dan disukai oleh kelinci. Di sinilah peran mahasiswa sebagai kaum intelektual untuk melakukan inovasi produk, bukan hanya menjadi pedagang perantara.

Saya tantang mereka, siapa yang berani mengambil peluang ini, dialah yang akan memenangkan persaingan di masa depan. Bisnis itu bukan soal ikut-ikutan tren yang sedang ramai, karena tren itu cepat sekali berlalu dan memudar. Bisnis yang kuat adalah bisnis yang menjadi solusi atas masalah yang dihadapi oleh sekelompok orang, sekecil apapun kelompok itu. Masalahnya jelas, kelinci butuh serat, wortel bikin sakit, dan Timothy Hay impor harganya selangit. Solusinya adalah sediakan rumput kering lokal berkualitas dengan harga yang lebih miring namun tetap menguntungkan. Itu rumus sederhana ekonomi yang sering dilupakan karena kita terlalu sibuk mencari ide yang muluk-muluk.

Saya juga mengingatkan bahwa bisnis di sektor hobi, seperti memelihara kelinci ini, sangat tahan terhadap resesi ekonomi. Orang mungkin akan mengurangi belanja baju baru atau menunda ganti gadget saat ekonomi sedang sulit. Tapi bagi pecinta hewan, jatah makan peliharaan adalah pos yang haram untuk dikurangi kualitasnya sedikitpun. Mereka lebih rela makan mie instan asalkan kelincinya tetap bisa makan rumput hay yang bergizi dan sehat. Loyalitas konsumen di sektor ini sangat tinggi, dan pembelian berulang atau repeat order-nya sangat terjamin setiap bulan. Sekali pelanggan cocok dengan produk rumput Anda, mereka akan berlangganan seumur hidup kelincinya.

Belum lagi jika kita bicara soal skalabilitas bisnis ini ke arah yang lebih luas dan masif jangkauannya. Jika produksi rumput lokal ini berhasil, pasarnya bukan hanya tetangga satu komplek atau satu kota saja. Dengan kekuatan marketplace dan ekspedisi, rumput kering yang ringan ini bisa dikirim ke seluruh pelosok Nusantara. Ongkos kirimnya murah karena barangnya ringan, tidak seperti mengirim cairan atau barang pecah belah yang berisiko. Anda bisa tinggal di Bengkulu, tapi pembeli Anda bisa datang dari Jakarta, Surabaya, bahkan Makassar. Internet telah meruntuhkan tembok geografis, memungkinkan rumput desa merambah pasar kota metropolitan.

Lantas, apa yang membuat bisnis semacam ini sering dipandang sebelah mata oleh banyak orang di sekitar kita? Jawabannya klasik, karena terlihat kotor, remeh, dan tidak bergengsi di mata sosial masyarakat umum. Orang lebih bangga bilang "saya punya kedai kopi" daripada "saya jualan rumput", padahal profitnya belum tentu kalah. Jebakan gengsi inilah yang sering membunuh potensi pengusaha muda sebelum mereka sempat berkembang menjadi besar. Padahal, uang tidak mengenal bau, uang dari jualan rumput sama berharganya dengan uang dari jualan emas. Seorang pengusaha sejati harus mampu menanggalkan jubah gengsinya dan memakai kacamata peluang.

Kita bisa belajar banyak dari filosofi rumput itu sendiri yang sering kita injak-injak setiap hari. Rumput itu tangguh, diinjak tak mati, dipotong tumbuh lagi, ia simbol ketahanan yang luar biasa. Begitu juga seharusnya mental seorang wirausahawan dalam menghadapi gempuran persaingan dan kegagalan yang datang silih berganti. Jangan cengeng, jangan mudah layu, harus tumbuh lagi dan lagi meski ditebas berkali-kali oleh keadaan. Belajar dari rumput, berbisnis pun harus punya daya tahan atau endurance yang panjang, bukan napas pendek.

Saya berharap, dari ratusan mahasiswa yang saya ajar, ada satu atau dua yang berani menyeriusi ide nyeleneh ini. Atau setidaknya, pola pikir mereka terbuka bahwa peluang usaha itu berserakan di sekitar kita, bahkan di bawah kaki kita. Seringkali kita terlalu sibuk mendongak ke atas mencari peluang besar, sampai lupa menunduk melihat emas hijau di bawah. Bisnis rumput hanyalah contoh kecil dari ribuan ketidaklaziman yang bisa dikonversi menjadi keuntungan finansial. Dunia ini penuh dengan hal-hal aneh, dan di setiap keanehan itu tersimpan peluang bagi mereka yang mau berpikir.

Memang, memulai usaha yang tidak lazim butuh keberanian ekstra dan telinga yang tebal menghadapi cibiran orang. Orang akan tertawa saat Anda mulai menjemur rumput, tetangga akan berbisik curiga melihat Anda membungkus ilalang. Tapi biarkanlah mereka tertawa sekarang, karena Anda yang akan tertawa paling keras saat melihat saldo rekening bertambah. Jadilah pembeda, jadilah anomali, karena di situlah letak kunci kemenangan di era yang serba seragam ini. Jangan takut menjadi berbeda, karena orang sukses biasanya memang sedikit berbeda di mata orang biasa.

Pada akhirnya, cerita tentang rumput ini hanyalah sebuah pemantik bagi nalar kita yang mungkin sedang tumpul. Di era disrupsi yang serba cepat ini, kita dituntut untuk inovatif, solutif, dan berani menerjang ketidaklaziman. Inovasi seringkali lahir dari hal-hal yang dianggap sepele, dianggap sampah, atau dianggap masalah oleh orang lain. Dari ketidaklaziman itulah seringkali muncul inovasi besar yang mengubah peta permainan ekonomi menjadi lebih menarik. Mulailah melatih mata Anda untuk melihat apa yang tidak dilihat orang lain, bahkan jika itu hanya sebatang rumput.

Hari ini, angka 107 tahun resmi tersemat pada tubuh tua Gerakan Kepanduan Hizbul Wathan, sebuah usia yang sebenarnya sudah sangat matang, bahkan tergolong sepuh untuk ukuran sebuah organisasi kepemudaan di negeri ini. Kalau kita bayangkan manusia, usia segitu pasti sudah tinggal tulang berbalut kulit, duduk di kursi goyang, dan hanya mampu bercerita soal masa lalu kepada cicit-cicitnya yang mungkin setengah mendengarkan sambil main gadget. Tapi Hizbul Wathan (HW) bukanlah manusia biasa, ia adalah entitas ideologis yang seharusnya makin tua makin berisi, makin sakti, dan makin relevan dengan tantangan zaman yang kian absurd ini. Namun, mari kita jujur sejenak sambil menyeruput kopi, apakah HW hari ini benar-benar sudah menjadi raksasa yang disegani, ataukah ia hanya besar di dalam kandang sendiri alias jago kandang? Saya melihat ada semacam paradoks yang menggelitik di sini.

Kita punya sejarah mentereng sebagai "kakak kandung" tentara karena melahirkan Jenderal Soedirman, tapi di lapangan, popularitas kita sering kali kalah lincah dibandingkan "adik" kita yang berbaju cokelat muda itu. Perayaan milad ini seharusnya bukan sekadar seremoni potong tumpeng atau apel akbar semata, melainkan momentum untuk menampar pipi kita sendiri agar sadar bahwa dunia sudah berubah drastis. Jangan sampai kita terlena dengan romantisme sejarah tahun 1918, sementara anak-anak muda Gen Z di luar sana bahkan bingung seragam HW itu seragam ormas apalagi.

Coba sampeyan-sampeyan perhatikan fenomena di sekolah-sekolah Muhammadiyah, di mana HW adalah menu wajib yang tak bisa ditawar-tawar lagi layaknya mata pelajaran Kemuhammadiyahan. Di satu sisi, ini adalah kekuatan struktural yang luar biasa karena menjamin suplai kader yang tidak akan pernah putus selama sekolah Muhammadiyah masih berdiri tegak di muka bumi. Tapi di sisi lain, kewajiban struktural ini sering kali mematikan kreativitas dan menjadikan kegiatan kepanduan sekadar formalitas menggugurkan kewajiban kurikulum belaka. Anak-anak ikut HW bukan karena mereka merasa itu keren atau menantang, tapi karena kalau tidak ikut, nilai rapor mereka bakal merah atau ijazah mereka ditahan. Akibatnya, ruh "kepanduan" yang seharusnya penuh petualangan, kegembiraan, dan kemandirian, berubah menjadi baris-berbaris yang membosankan di tengah terik matahari Jumat siang. Kita menciptakan jutaan anggota pasif yang begitu lulus sekolah, langsung melempar seragam hijaunya ke gudang dan tak pernah mau menengoknya lagi. Ini adalah masalah serius yang harus diakui oleh para pimpinan di kwartir pusat hingga daerah, bahwa kuantitas massal kita belum berbanding lurus dengan loyalitas dan kebanggaan organik. Barangkali kita terlalu lama nyaman berlindung di bawah ketiak nama besar Muhammadiyah, sehingga lupa caranya bertarung di hutan rimba kompetisi organisasi kepemudaan yang sesungguhnya.

Kalau Pramuka punya Satuan Karya (SAKA) yang memfasilitasi minat spesifik anggotanya mulai dari Bhayangkara hingga Dirgantara, lantas apa yang ditawarkan HW secara spesifik untuk mewadahi hobi anak muda kekinian? Kita masih sering terjebak pada materi-materi klasik seputar tali-temali, sandi morse, dan semapur yang, mohon maaf, bagi anak zaman sekarang mungkin terasa seantik mesin ketik pita. Padahal, potensi untuk membuat unit-unit khusus yang taktis dan modern sangat terbuka lebar jika kita mau sedikit saja membuka mata dan pikiran. Bayangkan jika HW memiliki unit khusus "Pandu Siber" yang jago coding dan keamanan data yang nempel dengan Majelis Pustaka dan Informasi, atau "Pandu Rescue" yang terintegrasi penuh dengan MDMC (Muhammadiyah Disaster Management Center) dengan kualifikasi internasional. Itu baru namanya modernisasi yang menyentuh substansi kebutuhan zaman, bukan sekadar modernisasi atribut atau logo yang kosmetik belaka. Tanpa spesialisasi yang jelas dan menarik, HW akan selamanya dianggap sebagai kegiatan "baris-berbaris" belaka, padahal esensi scouting jauh lebih luas dari itu.

Lihatlah saudara seperguruan kita, Tapak Suci Putera Muhammadiyah, yang sukses melompat pagar dan diterima dengan tangan terbuka di berbagai kampus negeri bahkan hingga ke mancanegara. Tapak Suci bisa begitu luwes masuk ke mana-mana karena mereka menjual "skill" bela diri dan prestasi olahraga, bukan sekadar menjual doktrin organisasi yang kaku. Orang mau ikut Tapak Suci bukan karena mereka ingin jadi kader Muhammadiyah, tapi karena mereka ingin bisa silat, ingin sehat, dan ingin keren dengan seragam merahnya yang gagah itu. Nah, HW seharusnya bisa meniru strategi penetrasi kultural ini dengan menjadikan skill kepanduan sebagai jualan utama yang seksi. Mengapa kita tidak bermimpi ada Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Hizbul Wathan di Universitas Indonesia, UGM, atau bahkan di kampus-kampus swasta elit, sebagaimana Pramuka bisa ada di mana saja? Selama HW masih memposisikan diri secara eksklusif sebagai "kepanduan milik sekolah Muhammadiyah," maka selama itu pula kita tidak akan pernah bisa menjadi organisasi yang inklusif dan membumi. Kita perlu merobohkan tembok mental block yang mengatakan bahwa HW hanya untuk orang Muhammadiyah, karena nilai-nilai kepanduan seperti kedisiplinan dan cinta alam itu universal.

Mungkin sebagian dari sampeyan-sampeyan akan protes dan bilang, "Lho, HW kan berasaskan Islam, jadi wajar dong kalau eksklusif?" Tunggu dulu, bukankah Islam itu rahmatan lil 'alamin, yang artinya rahmat bagi seluruh alam semesta, bukan rahmat bagi warga persyarikatan saja? Menjadi inklusif dan terbuka tidak berarti menggadaikan akidah, justru itu adalah sarana dakwah bil hal yang paling efektif di tengah masyarakat yang majemuk.

Kalau HW bisa dikemas dengan tampilan yang lebih pop, lebih adventure-oriented, dan tidak terlalu kental nuansa indoktrinasinya di awal rekrutmen, saya yakin banyak anak muda di luar sana yang tertarik bergabung. Mereka butuh wadah untuk menyalurkan energi berlebih, butuh komunitas yang positif, dan butuh skill bertahan hidup di alam bebas. Jika HW mampu menyediakan paket kegiatan yang menjawab kebutuhan itu tanpa embel-embel birokrasi yang njelimet, pasarnya sangat besar. Persoalannya, apakah kita berani mengubah kemasan "jamu pahit" ini menjadi "minuman energi" yang segar tanpa menghilangkan khasiat utamanya?

Bicara soal atribut, kadang saya berpikir apakah warna hijau tentara dan cokelat tanah yang kita banggakan itu masih relevan secara psikologis untuk anak muda zaman now yang lebih suka warna-warna cerah atau pastel? Tentu saja saya tidak menyarankan kita mengganti warna keramat itu, karena di sanalah letak historisnya, tapi desain dan fitting seragamnya mbok ya disesuaikan dengan selera fashion hari ini. Jangan sampai seragam HW terlihat kedodoran, kucel, dan membuat pemakainya merasa seperti sedang ikut wajib militer zaman Jepang yang menyeramkan. Rebranding visual itu penting, bukan untuk gaya-gayaan, tapi untuk membangun citra bahwa organisasi ini dikelola dengan profesional dan kekinian. Anak muda itu makhluk visual; mereka menilai buku dari sampulnya, dan mereka menilai organisasi dari seberapa keren foto kegiatannya di Instagram. Kalau feed media sosial HW isinya cuma foto bapak-bapak pejabat memberikan sambutan di podium, ya jangan harap anak muda mau melirik.

Saya membayangkan sebuah transformasi di mana HW memiliki divisi-divisi taktis yang mirip dengan SAKA di Pramuka, tapi dengan branding dan kurikulum yang khas Muhammadiyah namun berstandar global. Misalnya, kita buat "Korps Pandu Wirausaha" yang melatih anggotanya berbisnis digital, atau "Korps Pandu Lingkungan" yang fokus pada isu perubahan iklim dan daur ulang sampah. Ini bukan hal yang mustahil, mengingat Muhammadiyah punya sumber daya manusia yang melimpah ruah di segala bidang keilmuan dan profesi. Masalahnya selama ini adalah kita terlalu sektoral; orang pintar di Majelis Ekonomi tidak diajak ngurus HW, orang hebat di Majelis Lingkungan Hidup tidak diminta bikin kurikulum HW. HW dibiarkan berjalan sendiri dengan logikanya yang usang, sementara majelis lain berlari kencang dengan program-program modernnya. Sinergi antar-majelis ini harus dipaksa terjadi, agar HW mendapatkan suntikan nutrisi intelektual dan skill yang beragam, tidak melulu soal baris-berbaris dan menyanyi lagu mars.

Memang, mengubah sebuah kapal tua yang sangat besar seperti HW untuk berbelok arah itu susahnya minta ampun, butuh tenaga ekstra dan nakhoda yang gila. Struktur organisasi yang gemuk dari pusat sampai ranting sering kali justru menjadi penghambat kelincahan manuver, karena setiap keputusan harus melalui rapat pleno yang panjang dan melelahkan. Birokrasi internal kita kadang lebih rumit daripada mengurus KTP di kelurahan, dan inilah penyakit kronis yang harus diamputasi jika kita ingin lari kencang. Kita butuh desentralisasi kewenangan yang memberikan ruang gerak lebih bebas bagi kwartir daerah atau bahkan qabilah di sekolah/kampus untuk berinovasi sesuai kearifan lokal. Jangan semuanya harus menunggu petunjuk pelaksanaan (juklak) dan petunjuk teknis (juknis) dari pusat yang turunnya sering kali terlambat. Biarkan tunas-tunas muda di daerah berkreasi membuat kegiatan yang "out of the box", asalkan tidak melanggar prinsip dasar akidah dan akhlak.

Coba kita tengok sejarah Jenderal Soedirman lagi, tapi kali ini jangan lihat pangkat jenderalnya, lihatlah masa mudanya saat menjadi pandu HW yang militan. Soedirman muda ditempa bukan dengan duduk mendengarkan ceramah di dalam ruangan ber-AC, tapi dengan kegiatan fisik yang keras, kepemimpinan lapangan yang nyata, dan tanggung jawab sosial yang berat. Spirit "Panglima Besar" itu lahir dari debu dan keringat kepanduan, dari keberanian mengambil risiko, bukan dari kenyamanan fasilitas organisasi. Sekarang, kita sering terjebak memuja sosok Soedirman sebagai berhala sejarah, tapi gagal mewarisi etos kerjanya yang trengginas dan revolusioner. Kita bangga memajang foto beliau di dinding markas, tapi kegiatan kita lembek dan tidak mencetak karakter petarung. Modernisasi HW adalah upaya untuk menghidupkan kembali spirit Soedirman dalam konteks abad 21, di mana "perang gerilya" kita hari ini adalah perang melawan kebodohan, kemiskinan, dan ketertinggalan teknologi.

Salah satu kunci sukses Tapak Suci adalah standardisasi jurus dan sistem kenaikan tingkat yang jelas serta bergengsi, sehingga anggotanya merasa punya target pencapaian yang prestisius. Di HW, sistem Tanda Kecakapan Umum (TKU) dan Tanda Kecakapan Khusus (TKK) sering kali tidak dianggap sebagai sesuatu yang prestisius. Ini menurunkan wibawa organisasi di mata anggotanya sendiri; kalau mendapatkan badge itu mudah, buat apa diperjuangkan mati-matian? Kita harus mengembalikan "sakralitas" dari setiap lencana yang ditempel di seragam, bahwa itu adalah simbol kompetensi, bukan hiasan. Jika perlu, libatkan Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) untuk menguji kecakapan khusus tertentu, sehingga sertifikat HW laku dipakai untuk melamar kerja. Bayangkan kalau sertifikat "Pandu Jurnalistik" HW diakui oleh Dewan Pers, atau sertifikat "Pandu SAR" HW diakui oleh Basarnas, pasti anak-anak muda akan berebut masuk.

Lantas, bagaimana dengan konsep "Pembela Tanah Air" yang menjadi arti harfiah dari nama Hizbul Wathan itu sendiri? Di era damai seperti sekarang, membela tanah air tidak lagi dengan bambu runcing, melainkan dengan karya nyata yang solutif bagi permasalahan bangsa. HW harus hadir di tengah masyarakat yang kebanjiran, bukan hanya sebagai tukang angkut mie instan, tapi sebagai manajer posko yang handal dan pemimpin pemulihan trauma. HW harus hadir di kampung-kampung kumuh untuk mengajar anak jalanan, hadir di hutan-hutan gundul untuk menanam pohon, hadir di dunia maya untuk memerangi hoaks. Definisi "pembelaan" harus diperluas spektrumnya agar relevan dengan kegelisahan generasi milenial dan gen Z yang sangat concern pada isu-isu sosial dan lingkungan. Jika HW bisa membranding dirinya sebagai "NGO-nya anak muda Muhammadiyah" yang bergerak di bidang kemanusiaan dan lingkungan via kepanduan, itu akan sangat seksi.

Keberadaan HW di kampus-kampus non-Muhammadiyah adalah sebuah keniscayaan yang harus diperjuangkan, meski jalannya pasti terjal dan berliku. Langkah awalnya bisa dimulai dengan membentuk komunitas pecinta alam atau kelompok studi yang berafiliasi dengan nilai-nilai HW tanpa harus langsung memasang bendera formal yang mencolok. Masuklah lewat pintu hobi, lewat pintu diskusi, lewat pintu persaudaraan, baru pelan-pelan kenalkan baju seragamnya. Orang tidak akan resisten dengan nilai-nilai kebaikan seperti jujur, dipercaya, dan hemat, yang menjadi undang-undang HW, karena itu nilai universal. Yang sering bikin orang resisten itu adalah kemasan luarnya yang terkesan eksklusif dan "kelompok banget". Strategi marketing kita harus diubah dari "hard selling" yang memaksa orang masuk, menjadi "soft selling" yang membuat orang penasaran dan akhirnya jatuh cinta.

Kita juga tidak boleh menutup mata bahwa sumber pendanaan sering menjadi alasan klasik mengapa kegiatan HW mandek dan tidak variatif. Tapi, bukankah kita diajarkan untuk mandiri dan tidak cengeng meminta-minta sumbangan? Unit-unit usaha produktif berbasis kepanduan harus digalakkan, misalnya jasa outbound training profesional yang dikelola oleh kader HW, penyewaan alat camping, atau toko merchandise yang dikelola secara modern. Jangan biarkan HW menjadi benalu bagi kas sekolah atau kas persyarikatan, tapi jadikan ia sapi perah yang menghasilkan profit sekaligus benefit sosial. Kemandirian ekonomi organisasi akan melahirkan kemandirian sikap dan keleluasaan dalam membuat program-program gila tanpa harus disetir oleh donatur. Jiwa entrepreneurship K.H. Ahmad Dahlan harusnya menular deras di nadi setiap anggota pandu HW.

Tantangan lainnya adalah soal instruktur atau pelatih yang sering kali stoknya itu-itu saja, orang lama yang metodenya belum di-update sejak zaman Orde Baru. Kita butuh regenerasi pelatih yang radikal; kirim kader-kader muda terbaik untuk belajar metode scouting di luar negeri, ikut pelatihan SAR tingkat lanjut, atau kursus manajemen organisasi modern. Jangan biarkan pelatih HW hanya bermodal semangat dan suara lantang, tapi miskin metodologi pendidikan yang menyenangkan dan efektif. Anak sekarang kritis-kritis; mereka akan membandingkan pelatihnya dengan konten kreator di YouTube. Kalau pelatih HW kalah menarik dan kalah pintar dari YouTuber, ya wassalam, ditinggallah latihan itu. Investasi terbesar HW harusnya bukan pada gedung atau seragam, tapi pada peningkatan kapasitas otak dan skill para pelatihnya.

Saya teringat sebuah adagium lama yang mengatakan bahwa "tradisi adalah menjaga apinya, bukan menyembah abunya." HW punya api semangat yang menyala sejak 1918, tapi kalau kita sibuk menyembah abunya (baca: simbol-simbol masa lalu) tanpa menjaga apinya agar tetap panas membakar zaman, maka kita sedang membunuh HW pelan-pelan. Modernisasi bukanlah pengkhianatan terhadap tradisi, melainkan cara terbaik untuk menghormati para pendiri agar warisan mereka tetap hidup dan berguna. K.H. Ahmad Dahlan adalah seorang pembaru, seorang modernis sejati pada zamannya; beliau pasti akan sedih melihat organisasi bentukannya menjadi jumud dan gagap menghadapi perubahan. Kalau beliau masih hidup, mungkin beliau yang akan paling dulu menyuruh kita merombak kurikulum HW agar sesuai dengan kebutuhan abad 21. Jadi, jangan takut dibilang tidak nyunnah atau melanggar pakem hanya karena kita ingin membuat HW lebih relevan dan progresif.

Menjadikan HW sebesar dan sepopuler Tapak Suci memang terdengar ambisius, tapi bukan berarti tidak mungkin jika kita mau bekerja ekstra keras dan cerdas. Kuncinya ada pada "produk" yang kita tawarkan; Tapak Suci punya produk "bela diri" yang jelas manfaatnya, nah HW harus merumuskan "produk" apa yang mau dijual ke publik luas. Apakah produk itu bernama "karakter kepemimpinan"? Apakah "keterampilan survival"? Atau "solidaritas kemanusiaan"? Apapun itu, kemaslah produk tersebut dalam paket yang profesional, tersertifikasi, dan menyenangkan. Buatlah orang merasa rugi kalau tidak ikut HW, bukan merasa terpaksa. Ubah mindset dari "kewajiban" menjadi "kebutuhan".

Mungkin sudah saatnya kita menginisiasi "Jambore Inovasi HW" di mana setiap qabilah atau kwarda diwajibkan memamerkan inovasi teknologi atau sosial mereka, bukan cuma lomba pasang tenda tercepat. Biarkan mereka berkompetisi membuat aplikasi pantau bencana, membuat drone pemetaan desa, atau membuat metode pengolahan limbah plastik. Dari sana akan lahir bibit-bibit unggul yang melek teknologi, yang membuktikan bahwa pandu HW itu smart dan tech-savvy. Panggung-panggung HW harus diisi oleh prestasi nyata yang terukur, bukan sekadar pidato retorika yang mengawang-awang. Inilah cara kita berbicara kepada dunia bahwa HW sudah bangun dari tidur panjangnya dan siap berlari.

Tulisan ini saya tulis bukan karena saya benci, justru karena saking cintanya saya pada warisan Mbah Dahlan ini, saya tidak rela melihatnya lapuk dimakan usia. Benda antik memang mahal harganya, tapi kalau cuma ditaruh di lemari kaca, ia tidak memberikan manfaat apa-apa bagi kehidupan. HW harus keluar dari etalase sejarah, turun ke jalanan berlumpur, masuk ke laboratorium canggih, dan bergaul di kafe-kafe tempat anak muda nongkrong. Ia harus menjadi teman yang asyik, mentor yang bijak, dan wadah yang menampung segala kegalauan anak muda untuk diubah menjadi energi positif. Milad ke-107 ini harus jadi titik balik, sebuah turning point yang radikal.

Sudah cukup kita bernostalgia, sudah cukup kita merasa besar dengan bayang-bayang masa lalu. Mulai besok, mari kita bongkar kurikulum usang, mari kita desain ulang seragam agar lebih stylish, mari kita buka pintu selebar-lebarnya bagi siapa saja yang ingin bergabung tanpa sekat-sekat primordial. Jadikan HW sebagai rumah besar bagi patriot-patriot muda yang ingin berkarya untuk bangsa, apapun latar belakang ormas atau agamanya. Kalau Tapak Suci bisa, kenapa HW tidak? Kalau Pramuka bisa punya SAKA, kenapa HW tidak bisa punya korps spesialis yang lebih hebat? Jawabannya ada di kemauan kita untuk berubah atau punah.

Akhir kata, selamat milad ke-107 Gerakan Kepanduan Hizbul Wathan. Umurmu sudah tua, tapi jiwamu harus tetap muda, liar, dan berbahaya bagi musuh-musuh kemanusiaan. Jangan biarkan dirimu menjadi dinosaurus yang punah karena gagal beradaptasi dengan perubahan iklim zaman. Jadilah elang yang terus memperbarui paruh dan cakarnya agar bisa terbang tinggi dan menerkam mangsa dengan presisi. Mari bergerak, mari berbenah, karena Indonesia butuh pandu-pandu yang bukan cuma jago tepuk tangan, tapi jago menyelesaikan masalah. Fastabiqul khairat!

Suatu kali teman dekat saya merasa jenuh dengan hiruk-pikuk dunia maya yang isinya cuma pamer pencapaian dan debat kusir tak berujung, ia lantas memutuskan untuk mencari ketenangan batin lewat jalur spiritual dengan mendatangi sebuah majelis ilmu. Niat hati ingin mendapatkan siraman rohani yang menyejukkan jiwa dan menata kembali nalar yang mulai bengkok akibat terlalu banyak mengonsumsi konten sampah, tapi yang ia dapatkan justru kebingungan yang hakiki. Di sana, penceramahnya dengan berapi-api menceritakan kisah seorang kyai sakti mandraguna yang konon memiliki kemampuan raga sukma tingkat tinggi hingga bisa berada di dua tempat sekaligus dalam waktu bersamaan. Cerita itu disampaikan dengan sangat meyakinkan seolah-olah kemampuan membelah diri adalah standar kompetensi utama untuk disebut sebagai orang saleh di zaman modern ini. Dia menoleh ke kanan dan ke kiri, melihat jamaah lain mengangguk-angguk takzim seakan cerita itu adalah nutrisi paling bergizi bagi iman mereka yang sedang lapar. Tentu saja dia tidak berani protes atau bertanya tentang relevansi kesaktian itu dengan tagihan listrik yang membengkak, karena bisa-bisa dia dituduh sebagai penganut aliran sesat atau minimal dianggap kurang piknik spiritual. Pulang dari sana, bukannya merasa damai dan tercerahkan, ia cerita kepada saya bahwa ia kini sibuk memikirkan mekanisme fisika kuantum macam apa yang dipakai si tokoh untuk memindahkan jasadnya dari Jawa ke Mekkah tanpa paspor dan visa.

Ilustrasi Pengajian Muhammadiyah (Gambar : AI Generated)

Fenomena mendengarkan kisah-kisah ajaib semacam itu sebenarnya bukan barang baru di telinga masyarakat kita yang memang punya bakat alamiah untuk menyukai hal-hal berbau klenik dan mistis sejak zaman nenek moyang. Kita sering kali lebih mudah takjub pada cerita tentang kiai yang bisa berjalan di atas air tanpa basah sedikit pun daripada takjub pada orang yang berhasil membuat sistem irigasi canggih untuk mengairi sawah petani yang kekeringan. Ada semacam kepuasan batin tersendiri ketika mendengar ada manusia "pilihan" yang tubuhnya kebal bacok, tidak mempan disantet, atau kulitnya sekeras baja saat ditembak peluru tajam penjajah. Logika kita seolah dimanjakan dengan narasi bahwa kedekatan dengan Tuhan itu manifestasinya harus berupa kekuatan super layaknya anggota Avengers yang siap menyelamatkan dunia dari serangan alien. Padahal kalau dipikir-pikir dengan nalar orang lapar, kebal senjata itu tidak serta merta membuat perut kenyang atau membuat jalanan di depan rumah kita jadi mulus bebas lubang. Tapi ya mau bagaimana lagi, pasar cerita kesaktian memang selalu laris manis dan punya pangsa pasar yang militan di negeri yang hup-hup ini.

Kalau sampeyan adalah tipikal orang yang gampang bosan dengan dongeng kesaktian dan lebih suka hal-hal yang masuk akal serta bisa diraba dengan panca indra, mungkin sampeyan akan mengalami gegar budaya yang hebat jika salah masuk pengajian. Bayangkan saja betapa tersiksanya batin seorang rasionalis yang berharap dapat panduan hidup praktis tapi malah disuguhi tutorial cara terbang tanpa sayap yang jelas-jelas tidak bisa dipraktikkan di kantor saat macet melanda. Rasa-rasanya ingin sekali mengangkat tangan dan bertanya kepada ustaznya tentang bagaimana caranya mengubah air menjadi bensin pertamax, karena itu jelas lebih solutif bagi kehidupan umat saat ini. Namun, harapan tinggal harapan, karena biasanya di pengajian model begini, nalar kritis sering kali dianggap sebagai bentuk ketidaksopanan atau bahkan gangguan jin yang harus segera diruqyah. Akhirnya, kita hanya bisa duduk manis sambil menahan kantuk, mendengarkan kisah heroik masa lalu yang jaraknya ribuan tahun cahaya dari realitas kita yang sedang pusing memikirkan cicilan pinjol.

Nah, di tengah keputusasaan mencari oase spiritual yang ramah nalar dan membumi itulah, saya menyarankan sampeyan untuk sekali-kali mencoba duduk bersila di pengajian Muhammadiyah. Jangan kaget kalau di sana sampeyan tidak akan menemukan aroma kemenyan atau cerita tentang karomah tokoh yang bisa menghilang saat ditagih hutang oleh tetangga. Suasana di pengajian Muhammadiyah itu kering dari nuansa mistis, saking keringnya kadang terasa seperti sedang rapat dewan direksi perusahaan start-up yang sedang membahas valuasi dan ekspansi bisnis. Di sini, alih-alih membahas cara melipatgandakan uang secara gaib, sampeyan akan diajak memutar otak tentang bagaimana caranya mengumpulkan dana umat untuk membangun sesuatu yang nyata dan bisa dilihat mata telanjang. Tidak ada sensasi merinding disko akibat cerita horor, yang ada justru kening yang berkerut memikirkan target pembangunan yang disampaikan dengan detail layaknya presentasi arsitek profesional.

Bagi para pencari sensasi magis dan penikmat cerita legenda urban, pengajian model Muhammadiyah ini jelas terasa hambar, garing, dan membosankan setengah mati karena tidak ada atraksi debus sama sekali. Bagaimana tidak membosankan, lha wong materi yang dibahas tidak jauh-jauh dari urusan semen, batu bata, keramik, perizinan tanah, hingga manajemen aset wakaf yang njlimetnya minta ampun. Penceramahnya tidak akan berbusa-busa menceritakan konon kabarnya beliau pernah shalat Jumat di Masjidil Haram padahal jasadnya terlihat tidur di serambi masjid kampung. Justru penceramahnya akan datang membawa tumpukan proposal pembangunan gedung sekolah baru atau rencana renovasi panti asuhan yang atapnya sudah mulai bocor dimakan rayap. Jamaah tidak diajak untuk melayang ke awang-awang membayangkan surga yang abstrak, tapi diajak menapak bumi untuk menciptakan kepingan surga kecil bagi mereka yang membutuhkan.

Masuk ke lingkungan pengajian Muhammadiyah itu ibarat masuk ke dalam sebuah ekosistem birokrasi langit yang sangat terstruktur, sistematis, dan masif dalam artian yang positif tentunya. Sampeyan akan segera menyadari bahwa fokus utama dari perkumpulan ini adalah kerja nyata, kerja keras, dan kerja cerdas untuk kemaslahatan umat manusia tanpa memandang bulu. Jangan harap bisa pulang membawa jimat penglaris dagangan atau air doa yang bisa menyembuhkan segala macam penyakit mulai dari panu hingga kanker stadium akhir. Oleh-oleh dari pengajian ini biasanya berupa semangat yang meletup-letup untuk ikut serta dalam proyek kemanusiaan atau minimal rasa malu karena belum bisa berbuat banyak untuk orang lain. Di sini, kesalehan seseorang tidak diukur dari seberapa lama ia bisa bertapa di gua sunyi tanpa makan dan minum, melainkan dari seberapa besar kontribusinya dalam mewujudkan fasilitas publik yang bermanfaat.

Coba perhatikan baik-baik materi kajiannya, hampir selalu bermuara pada ajakan untuk mendirikan masjid yang makmur, sekolah yang berkemajuan, rumah sakit yang melayani, hingga kampus yang mencerahkan. Orang-orang Muhammadiyah ini sepertinya punya obsesi aneh untuk mengubah setiap jengkal tanah wakaf menjadi bangunan produktif yang bisa memutar roda ekonomi dan pendidikan umat. Kalau ada tanah kosong, naluri kemuhammadiyahan mereka akan langsung bergetar hebat dan merumuskan rencana pembangunan amal usaha, bukan merumuskan tempat untuk mencari wangsit. Bagi mereka, membiarkan tanah menganggur tanpa dimanfaatkan untuk kepentingan umat adalah sebuah dosa sosial yang harus segera ditebus dengan amal nyata berupa pembangunan infrastruktur. Maka tak heran jika aset Muhammadiyah bertebaran di mana-mana, dari kota besar hingga pelosok desa yang sinyal internetnya pun masih senin-kamis.

Isi pengajiannya benar-benar pragmatis dalam artian yang paling mulia, yaitu bagaimana agama ini bisa hadir sebagai solusi konkret atas permasalahan hidup sehari-hari yang dihadapi masyarakat. Ketika orang lain sibuk berdebat tentang dalil memanjangkan jenggot atau celana cingkrang, orang Muhammadiyah sudah sibuk meletakkan batu pertama pembangunan klinik kesehatan ibu dan anak. Mereka seolah ingin menegaskan bahwa Islam itu bukan hanya sekadar ritual penyembahan di atas sajadah, tapi juga gerakan sosial yang membebaskan manusia dari kebodohan, kemiskinan, dan keterbelakangan. Narasi yang dibangun adalah narasi pemberdayaan, di mana setiap individu didorong untuk menjadi agen perubahan di lingkungannya masing-masing dengan kapasitas yang dimilikinya. Jadi, kalau sampeyan datang ke sana dengan niat ingin belajar ilmu kebal, siap-siap saja kecewa berat karena yang diajarkan adalah ilmu kebal kemiskinan lewat etos kerja dan kewirausahaan.

Di Muhammadiyah, yang dikaji secara mendalam dan berulang-ulang adalah soal bagaimana hidup yang singkat ini agar bisa benar-benar bermanfaat bagi sesama manusia dan makhluk hidup lainnya. Filosofi ini tertanam kuat di benak para kadernya, sehingga orientasi hidup mereka bukan lagi sekadar menyelamatkan diri sendiri dari api neraka, tapi juga menyelamatkan orang lain dari neraka dunia. Mereka percaya bahwa sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain, sebuah prinsip yang terdengar klise tapi sangat berat pelaksanaannya di lapangan. Tidak ada tempat bagi egoisme spiritual yang hanya mementingkan kesalehan ritual pribadi sambil menutup mata terhadap penderitaan tetangga yang kelaparan atau anak yatim yang putus sekolah. Kesaktian yang diakui di sini adalah kesaktian mengubah uang receh sumbangan jamaah menjadi gedung bertingkat yang melahirkan ribuan sarjana setiap tahunnya.

Cerita-cerita hikmah yang disampaikan di mimbar pengajian Muhammadiyah bukanlah soal kesaktian supranatural orang sakti di masa lampau yang bisa terbang atau menghilang sesuka hati. Yang diceritakan adalah kisah-kisah inspiratif tentang perjuangan Kiai Ahmad Dahlan yang rela melelang barang-barang rumah tangganya demi menggaji guru-guru di sekolah yang didirikannya. Kisah tentang bagaimana para pendahulu organisasi ini berdarah-darah mempertahankan sekolah dan panti asuhan di tengah gempuran penjajah dan keterbatasan ekonomi yang mencekik leher. Heroisme yang ditonjolkan adalah heroisme pengorbanan harta dan jiwa untuk memastikan roda organisasi tetap berputar memberikan manfaat bagi masyarakat luas. Tidak ada bumbu mistis yang ditambahkan, karena realitas perjuangan mereka sudah cukup dramatis dan menggetarkan hati tanpa perlu tambahan efek khusus ala film Hollywood.

Justru di sinilah letak keunikan dan kekuatan narasi Muhammadiyah, yang berhasil membumikan sosok-sosok teladan menjadi manusia biasa yang bisa ditiru jejak langkahnya oleh siapa saja. Kiai Dahlan digambarkan bukan sebagai superman yang tak tersentuh, melainkan sebagai manusia biasa yang punya rasa cemas, punya masalah keuangan, tapi punya tekat baja untuk memajukan umatnya. Pendekatan ini membuat jamaah merasa relevan dan terhubung, karena mereka sadar bahwa untuk menjadi mulia tidak perlu menunggu punya sayap atau punya ilmu rawa rontek. Cukup dengan memiliki kepedulian sosial dan mau menyisihkan sebagian rezeki untuk kepentingan bersama, siapa pun bisa menjadi pahlawan di lingkungannya masing-masing tanpa terkecuali. Ini adalah demokratisasi kesalehan yang luar biasa, di mana tiket masuk surga tidak dimonopoli oleh mereka yang punya privilege keturunan atau kesaktian tertentu.

Kesederhanaan dan kebermanfaatan menjadi dua kata kunci yang terus didengungkan di setiap kesempatan, seolah menjadi mantra wajib yang harus dihafal di luar kepala. Pejabat teras Muhammadiyah sering kali tampil dengan gaya yang jauh dari kesan glamor atau feodal, bahkan kadang sulit dibedakan mana pimpinan pusat dan mana marbot masjid saking sederhananya. Mereka mengajarkan bahwa jabatan dan kekayaan hanyalah alat titipan Tuhan yang harus digunakan seefektif mungkin untuk melayani umat, bukan untuk minta dilayani atau disembah-sembah. Budaya egaliter ini sangat kental terasa, di mana kritik dan masukan bisa disampaikan dengan terbuka tanpa rasa takut kualat pada sang pemimpin. Sebab di sini, yang disucikan adalah nilai-nilai kebenaran dan kejujuran, bukan sosok individu yang dianggap setengah dewa.

Jamaah pengajian akan diajak untuk melihat bekal akhirat sebagai sebuah rangkaian panjang yang terhubung langsung dengan setiap tindakan kecil yang kita lakukan di dunia ini. Pandangan ini menolak dikotomi atau pemisahan yang kaku antara urusan duniawi dan ukhrawi, seolah-olah keduanya adalah dua kutub yang saling bermusuhan dan tidak bisa didamaikan. Di Muhammadiyah, bekerja mencari nafkah yang halal, belajar ilmu pengetahuan umum, dan berorganisasi adalah bagian integral dari ibadah itu sendiri jika diniatkan dengan benar. Jadi, jangan heran kalau rapat pengurus ranting yang membahas anggaran renovasi toilet masjid pun dianggap sama sakralnya dengan wirid di sepertiga malam terakhir. Karena toilet yang bersih akan membuat jamaah nyaman beribadah, dan kenyamanan itu adalah bagian dari pelayanan yang bernilai pahala di sisi Tuhan.

Melihat akhirat itu bukan sesuatu yang terpisah dari realitas kita saat ini, bukan sebuah dunia antah berantah yang baru akan kita masuki setelah jantung berhenti berdetak nanti. Akhirat adalah perpanjangan dari apa yang kita tanam hari ini, sebuah konsekuensi logis dari setiap keputusan yang kita ambil detik demi detik di dunia yang fana ini. Konsep ini memaksa kita untuk selalu sadar dan waspada dalam bertindak, karena setiap langkah punya dampak jangka panjang yang melintasi batas kematian. Tidak ada istilah "nanti saja tobatnya kalau sudah tua", karena membangun peradaban akhirat harus dimulai sejak muda dengan karya nyata yang monumental. Surga itu tidak bisa diraih hanya dengan melamun atau berangan-angan, tapi harus direbut dengan keringat dan kerja keras dalam menebar kebaikan di muka bumi.

Sesuatu yang wah dan megah di akhirat nanti hanyalah refleksi dari akumulasi kebaikan-kebaikan kecil yang kita tumpuk dengan telaten selama hidup di dunia. Bayangkan akhirat itu seperti sebuah celengan raksasa yang isinya adalah koin-koin amal jariyah yang kita masukkan setiap hari tanpa henti, sedikit demi sedikit lama-lama menjadi bukit. Muhammadiyah mengajarkan kita untuk menjadi investor akhirat yang cerdas, yang tahu portofolio amal mana yang memberikan dividen pahala paling besar dan berkelanjutan alias sustainable. Makanya mereka gencar membangun institusi pendidikan dan kesehatan, karena itulah jenis investasi yang pahalanya tidak akan putus meski investornya sudah terkubur di dalam tanah. Ini adalah strategi manajemen spiritual tingkat tinggi yang menggabungkan visi visioner dengan eksekusi lapangan yang presisi.

Dunia ini harus diisi dengan berlomba-lomba dengan kebaikan, sebuah kompetisi sehat yang tidak saling menjatuhkan tapi saling menguatkan satu sama lain dalam koridor kebajikan. Tidak ada waktu untuk saling sikut atau saling dengki melihat keberhasilan orang lain, karena fokus utama adalah bagaimana kita bisa memberikan kontribusi terbaik versi diri kita sendiri. Persaingan di sini bukan soal siapa yang paling kaya atau paling populer, tapi siapa yang paling banyak memberi manfaat dan solusi bagi permasalahan umat. Atmosfer kompetisi ini menciptakan dinamika yang positif, di mana setiap cabang dan ranting Muhammadiyah berlomba-lomba memamerkan prestasi amal usahanya, bukan memamerkan koleksi batu akiknya. Dan hebatnya, "pamer" di sini justru memicu semangat pihak lain untuk meniru dan melakukan hal yang lebih baik lagi di kemudian hari.

Sehingga akhirat itu terlihat sebagai sebuah akumulasi kebaikan yang solid, bukan sekadar harapan kosong yang digantungkan pada doa orang lain setelah kita mati. Kita diajarkan untuk menjadi arsitek nasib kita sendiri di masa depan dengan menggambar desain amal saleh yang kokoh dan tahan uji sejak hari ini. Tidak ada jalan pintas menuju surga, tidak ada cheat code atau kode curang yang bisa dipakai untuk menembus gerbang keabadian tanpa bekal yang cukup. Semuanya harus melalui proses, melalui tahapan perjuangan yang kadang melelahkan dan penuh tantangan, tapi di situlah letak seninya beragama.

Muhammadiyah menawarkan jalan yang terjal tapi jelas petanya, bukan jalan yang terlihat mulus tapi ternyata menyesatkan ke lembah kemalasan dan fatalisme.

Makanya di Muhammadiyah ada salah satu semboyan yang terkenal yang dikutip dari Alquran, sebuah frasa pendek namun memiliki daya ledak yang luar biasa bagi siapa saja yang merenunginya: Fastabiqul Khairat. Kalimat ini bukan sekadar slogan tempelan yang dipajang di spanduk-spanduk acara atau kop surat organisasi semata. Ini adalah etos, ini adalah ruh, ini adalah bahan bakar nuklir yang menggerakkan mesin organisasi raksasa ini selama lebih dari satu abad lamanya. Fastabiqul Khairat yang berarti "berlomba-lombalah dalam kebaikan" adalah perintah suci yang diterjemahkan menjadi aksi nyata tanpa banyak basa-basi diplomasi. Semboyan ini menampar kita yang sering kali merasa cukup dengan menjadi orang baik yang pasif, padahal menjadi baik saja tidak cukup, kita harus berlomba menjadi yang terbaik dalam memberi manfaat.

Fastabiqul Khairat itu maknanya bukan balapan lari karung 17 Agustusan yang ada menang dan ada kalahnya, di mana yang kalah akan bersedih hati. Dalam konteks ini, semua orang bisa jadi pemenang asalkan mereka bergerak, asalkan mereka tidak diam berpangku tangan melihat ketidakadilan dan kebodohan merajalela. Ini adalah seruan untuk proaktif, inisiatif, dan progresif dalam merespons tantangan zaman yang semakin gila ini dengan solusi yang konstruktif. Ketika ada bencana alam, semangat ini mewujud dalam bentuk pasukan relawan yang turun duluan ke lokasi sebelum bantuan pemerintah sampai. Ketika ada wabah penyakit, semangat ini mewujud dalam kesiapan rumah sakit-rumah sakit Muhammadiyah menjadi garda terdepan penanganan pasien tanpa tanya isi dompetnya dulu.

Bentuk implementasinya di lapangan sangat beragam dan sering kali membuat kita geleng-geleng kepala karena saking totalitasnya orang-orang Muhammadiyah ini dalam beramal. Lihatlah bagaimana ibu-ibu Aisyiyah yang usianya sudah senja masih semangat mengelola Taman Kanak-Kanak Bustanul Athfal di pelosok desa dengan gaji yang mungkin hanya cukup untuk beli bensin motor. Lihatlah bagaimana para pemuda Muhammadiyah patungan uang jajan mereka untuk membedah rumah warga miskin yang hampir roboh tanpa mengharap diliput media massa. Lihatlah bagaimana LazisMu mengelola dana zakat, infak, dan sedekah dengan manajemen modern yang transparan sehingga setiap rupiah bisa dipertanggungjawabkan penggunaannya. Semua itu adalah manifestasi nyata dari Fastabiqul Khairat, bukan sekadar jargon kosong yang diteriakkan saat kampanye pemilihan ketua umum saja.

Semboyan ini juga mengajarkan kita untuk tidak cepat berpuas diri dengan pencapaian yang sudah diraih, karena di atas langit masih ada langit, di atas kebaikan masih ada kebaikan yang lebih besar. Jika hari ini sudah berhasil membangun satu sekolah, maka besok targetnya adalah membangun universitas, dan lusa targetnya mungkin membangun stasiun luar angkasa kalau perlu. Tidak ada kata berhenti atau pensiun dalam kamus perjuangan Muhammadiyah, karena berhenti berarti mati, berhenti berarti membiarkan kebatilan mengambil alih panggung sejarah. Semangat untuk terus bertumbuh dan berkembang inilah yang membuat organisasi ini tetap relevan dan segar meski zaman terus berubah dengan cepatnya. Mereka tidak sibuk meratapi masa lalu kejayaan Islam, tapi sibuk menyusun batu bata peradaban untuk kejayaan masa depan Islam yang berkemajuan.

Uniknya, kompetisi dalam kebaikan ini dilakukan dengan penuh kegembiraan, seolah-olah membangun rumah sakit itu sama asyiknya dengan main futsal bareng teman-teman satu geng. Tidak ada wajah-wajah tertekan atau menderita saat mereka dimintai sumbangan, yang ada justru senyum lebar karena merasa diberi kesempatan untuk menanam saham di akhirat. Dompet boleh menipis, rekening boleh berkurang, tapi hati mereka kaya raya dengan keyakinan bahwa apa yang mereka keluarkan akan kembali berlipat ganda dalam bentuk keberkahan. Logika matematika sedekah ala Muhammadiyah memang sering kali tidak masuk di akal para ekonom kapitalis, tapi terbukti ampuh menjaga cashflow organisasi tetap hijau royo-royo. Keajaiban itu nyata adanya, tapi bukan lewat jampi-jampi, melainkan lewat kekuatan jamaah yang solid dan ikhlas lillahi ta'ala.

Ciri khas lain dari implementasi Fastabiqul Khairat adalah profesionalitas dalam mengelola amal usaha, tidak dikelola dengan sistem manajemen "pokoknya jalan" atau manajemen warung kopi. Sekolah Muhammadiyah harus punya standar mutu yang jelas, rumah sakitnya harus terakreditasi paripurna, dan laporan keuangannya harus diaudit oleh akuntan publik independen. Mereka sadar bahwa niat baik saja tidak cukup, niat baik harus didukung dengan tata kelola yang baik agar hasilnya maksimal dan tidak malah menjadi beban di kemudian hari. Tuhan mencintai pekerjaan yang dilakukan dengan itqan (profesional/tuntas), dan Muhammadiyah berusaha menerjemahkan cinta Tuhan itu ke dalam SOP organisasi yang ketat. Jadi, jangan harap bisa korupsi di sini, karena malaikat pencatat amal dan auditor internal sama-sama galaknya dalam mengawasi setiap sen uang umat.

Bahkan dalam hal-hal kecil sekalipun, semangat berlomba dalam kebaikan ini terasa denyutnya, misalnya dalam urusan ketepatan waktu memulai acara pengajian atau rapat organisasi. Budaya jam karet alias ngaret yang sudah mendarah daging di masyarakat kita berusaha dikikis pelan-pelan, meskipun kadang masih ada satu dua yang telat dengan alasan ban bocor yang klise. Disiplin waktu dianggap sebagai bagian dari amanah dan penghormatan terhadap waktu orang lain yang juga berharga untuk berbuat kebaikan lainnya. Menghargai waktu adalah menghargai kehidupan itu sendiri, dan orang Muhammadiyah tidak mau menyia-nyiakan kehidupan dengan menunggu hal-hal yang tidak pasti. Semuanya harus terencana, terukur, dan tepat sasaran, agar energi umat tidak habis hanya untuk urusan seremonial belaka.

Pada akhirnya, ajaran di pengajian Muhammadiyah ini menawarkan sebuah perspektif keberagamaan yang

Sore itu langit kota kami sedang mendung syahdu, seolah mengerti perasaan teman saya yang duduk di depan meja dengan wajah ditekuk tujuh lipatan. Kami sedang berada di sebuah warung kopi langganan yang biasanya riuh rendah, namun entah kenapa aura teman saya ini membuat kopi yang saya pesan terasa lebih pahit dari biasanya. Ia baru saja pulang dari kampus setelah seharian mengikuti rapat maraton kepanitiaan wisuda universitasnya yang konon sangat melelahkan jiwa dan raga. Saya yang niat awalnya ingin minta traktir gorengan jadi urung karena melihat gelagatnya yang seperti orang baru saja kalah judi bola. Ia menghela napas panjang berkali-kali, sepertinya sedang menata kalimat agar sumpah serapahnya tidak keluar secara membabi buta. Sebagai kawan yang baik dan budiman, saya membiarkannya menumpahkan segala uneg-uneg yang menyumbat di dada agar tidak jadi penyakit stroke di usia muda.

Ilustrasi Wisuda
Ilustrasi (Gambar : AI Generated)

Setelah menyeruput kopinya yang tinggal separuh, ia mulai bercerita bahwa rapat tadi berjalan cukup alot dan menguras emosi, terutama di sesi pembahasan prosesi senat. Teman saya ini kebetulan dipercaya menjadi salah satu panitia inti yang mengurusi detail acara wisuda agar terlihat sakral dan megah. Di tengah rapat, dengan niat yang sungguh mulia, ia mengusulkan agar paduan suara menyanyikan lagu Gaudeamus Igitur saat senat universitas memasuki ruangan. Menurutnya, lagu itu punya magis tersendiri yang bisa bikin suasana wisuda jadi merinding disko saking khidmatnya. Ia berpendapat bahwa lagu itu sudah semacam lagu wajib tidak tertulis bagi wisudawan di seluruh penjuru dunia. Rasanya ada yang kurang jleb kalau momen pemindahan kuncir toga tidak dibarengi dengan alunan nada klasik yang megah itu.

Namun, apa yang terjadi selanjutnya justru membuat teman saya ini melongo tak percaya, seolah-olah ia baru saja melihat sapi terbang melintasi gedung rektorat. Usulannya itu ditolak mentah-mentah oleh salah satu anggota panitia yang kebetulan merupakan dosen senior dan mantan petinggi di salah satu fakultas di kampus tersebut. Penolakan itu bukan didasari oleh alasan teknis durasi atau ketiadaan penyanyi, melainkan karena alasan yang menurut teman saya sangat "ajaib". Sang dosen sepuh itu menolak lagu Gaudeamus Igitur diputar karena menganggap lagu itu berasal dari tradisi gereja yang tidak sesuai dengan napas kampusnya. Teman saya sempat terdiam beberapa detik, mencoba mencerna logika macam apa yang sedang dipakai oleh beliau. Ia merasa seperti sedang berada di lorong waktu, terlempar ke masa di mana segala sesuatu dicurigai tanpa dasar yang jelas.

Mendengar cerita itu, saya yang sedang mengunyah tahu bunting sontak berhenti mengunyah karena saking herannya dengan jalan pikir yang diceritakan teman saya. Bisa-bisanya di era informasi yang serba terbuka ini, masih ada akademisi yang memelihara ketakutan tak berdasar terhadap sebuah karya seni legendaris. Padahal setahu saya, universitas adalah tempat bertemunya segala macam pemikiran, tempat di mana nalar diuji dan wawasan diperluas tanpa sekat-sekat prasangka. Kalau lagu wisuda saja dipermasalahkan dengan sentimen keagamaan yang sempit, bagaimana nasib diskursus ilmu pengetahuan yang lebih kompleks nanti. Teman saya melanjutkan ceritanya, bahwa ia sempat mencoba berargumen dengan sopan untuk meluruskan pandangan bapak dosen tersebut. Ia berusaha menjelaskan bahwa lagu itu sifatnya universal dalam konteks akademik dan sudah diadopsi oleh ribuan kampus di dunia tanpa memandang latar belakang agama.

Dalam debat kecil di ruang rapat itu, teman saya mencoba menggunakan logika balik yang cukup cerdas untuk mematahkan argumen soal "tradisi gereja" tersebut. Ia berkata pada sang dosen, kalau memang kita mau konsisten menolak segala hal yang berbau tradisi gereja, maka wisuda itu sendiri harusnya ditiadakan. Perlu diketahui bersama bahwa sejarah wisuda, mulai dari jubah toga hingga topi segi lima, itu semua berakar kuat dari tradisi gereja abad pertengahan di Eropa. Universitas-universitas tertua di dunia dulunya didirikan oleh ordo keagamaan, dan pakaian wisuda itu adalah adaptasi dari jubah para pendeta. Jadi, sungguh sebuah ironi yang menggelikan jika lagunya ditolak karena alasan asal-usul, tapi kostumnya dipakai dengan bangga sambil senyum-senyum difoto.

Teman saya bercerita bahwa ia menjelaskan panjang lebar soal sejarah toga itu di depan forum rapat, berharap bisa membuka sedikit cakrawala pemikiran para hadirin. Bahwa toga yang hitam panjang itu menyimbolkan kaum terpelajar yang memisahkan diri dari keduniawian, sebuah konsep yang sangat kental nuansa klerusnya di masa lalu. Bahkan istilah gelar akademik seperti "bachelor" pun punya akar sejarah yang tak bisa dilepaskan dari konteks keagamaan masa lampau di Barat. Jadi kalau mau "murni" dan anti-barat atau anti-gereja, ya sekalian saja wisudanya pakai baju adat daerah masing-masing tanpa embel-embel toga. Tapi tentu saja, argumen rasional itu memantul begitu saja di tembok keteguhan hati sang dosen senior yang sepertinya sudah imun terhadap fakta sejarah.

Yang membuat teman saya makin geleng-geleng kepala adalah ketika sang dosen mengeluarkan kartu as argumennya yang kedua, yang menurut saya lebih absurd lagi. Beliau mengklaim bahwa arti dari lirik lagu Gaudeamus Igitur itu mengandung ajakan sesat untuk bersenang-senang dan melupakan Tuhan. Katanya, lirik lagu itu berbahaya bagi moral mahasiswa karena mengajak pada hedonisme yang tidak sesuai dengan nilai luhur bangsa kita. Teman saya sampai ingin memijat keningnya sendiri mendengar interpretasi lirik yang sepertinya didapat dari pesan berantai grup WhatsApp keluarga itu. Bagaimana bisa seorang pengajar mengambil kesimpulan seserius itu hanya dari pembacaan sekilas tanpa memahami konteks budaya dan sastra di baliknya.

Saya mendengarkan keluhan teman saya itu sambil tertawa kecil, menertawakan betapa lucunya nasib nalar di negeri ini yang kadang macet di tempat yang tak terduga. Padahal kalau bapak dosen itu mau meluangkan waktu sedikit saja untuk membaca (bukankah dosen tugasnya membaca?), ia akan tahu makna sebenarnya. Gaudeamus Igitur adalah frasa Latin yang berarti "Karenanya marilah kita bergembira", sebuah ajakan wajar untuk merayakan kelulusan. Lagu ini sejatinya adalah lagu pergaulan mahasiswa abad pertengahan, semacam drinking song atau lagu pesta anak muda zaman old di Eropa sana. Isinya adalah tentang perayaan masa muda, bukan mantra pemujaan atau doa ritual agama tertentu seperti yang ditakutkan.

Jika kita bedah liriknya lebih dalam, lagu ini justru sangat filosofis dan mengingatkan manusia pada kodratnya yang fana dan tidak kekal. Ada bait yang sangat terkenal berbunyi "Post jucundam juventutem, post molestam senectutem, nos habebit humus". Artinya kurang lebih begini Setelah masa muda yang riang, setelah masa tua yang payah, tanah akan memiliki kita. Itu adalah konsep Memento Mori, pengingat akan kematian, bahwa sehebat apapun kita belajar, ujung-ujungnya kita akan mati juga. Jadi di mana letak ajakan sesatnya, wong lagunya malah mengingatkan kita supaya sadar bahwa hidup ini singkat.

Justru lagu ini mengajarkan semangat Carpe Diem, raihlah hari ini, manfaatkan waktu selagi masih muda dan bugar untuk berkarya. Mumpung belum tua, mumpung belum sakit-sakitan, mumpung belum pikun, marilah kita rayakan pencapaian akademik ini dengan sukacita. Pesan moralnya sangat dalam, bahwa kegembiraan wisuda itu hanya sesaat sebelum kita menghadapi realitas hidup yang keras dan akhirnya kematian. Interpretasi "sesat" yang dituduhkan itu rasanya terlalu jauh panggang dari api, menunjukkan betapa minimnya referensi yang dibaca. Mungkin beliau hanya membaca satu baris terjemahan lalu imajinasinya liar kemana-mana sampai ke jurang kesesatan.

Saya jadi ikut merenung mendengar cerita teman saya, bagaimana mungkin orang dengan posisi akademis tinggi bisa memiliki pandangan yang begitu sempit alias "sumbu pendek". Bukankah tugas utama seorang pendidik adalah mengajarkan cara berpikir kritis dan memverifikasi informasi sebelum menghakiminya. Kalau dosennya saja gampang termakan bias informasi dan enggan mencari kebenaran sejarah, bagaimana dengan mahasiswanya nanti. Mahasiswa yang notabenenya adalah generasi Z yang haus informasi butuh mentor yang bisa membuka wawasan, bukan menutupnya. Kasihan sekali mahasiswa kalau harus dicekoki ketakutan-ketakutan irasional yang sebenarnya tidak perlu ada di ruang kuliah.

Kejadian di ruang rapat ini hanyalah potret kecil dari masalah yang lebih besar di dunia pendidikan kita, yaitu matinya nalar kritis di hadapan otoritas senioritas. Seringkali argumen yang masuk akal dan didukung data harus kalah dengan argumen "pokoknya" yang dilontarkan oleh mereka yang merasa lebih tua. Teman saya akhirnya memilih mengalah dalam rapat itu, bukan karena ia setuju, tapi karena ia sadar debat kusir tak akan mengubah batu menjadi roti. Lagu Gaudeamus Igitur pun batal berkumandang, digantikan oleh lagu lain yang dianggap lebih "aman" dan tidak mengundang murka langit menurut tafsir sepihak. Padahal, esensi wisuda tetaplah sama, dan sejarah toga yang mereka pakai pun tetaplah berasal dari tradisi yang mereka hindari itu.

Sungguh sebuah paradoks yang menggelikan, menolak satu elemen budaya karena sentimen, tapi memeluk erat elemen lain dari budaya yang sama tanpa rasa bersalah. Ini ibarat orang yang anti makanan Jepang tapi hobi makan Takoyaki di pinggir jalan karena dikira itu jajanan dari salah satu daerah di Indonesia. Ketidaktahuan sejarah seringkali membuat kita bersikap lucu dan inkonsisten, tapi sayangnya ketidaktahuan itu dipelihara oleh ego. Saya menepuk pundak teman saya, mencoba memberinya sedikit kekuatan agar ia tidak terlalu frustrasi menghadapi realita ini. "Sudahlah," kata saya, "mungkin beliau memang kurang piknik atau kurang referensi bacaan sejarahnya."

Diskusi kami di warung kopi itu berlanjut ke hal-hal yang lebih substansial mengenai masa depan mahasiswa yang dididik oleh model pengajar seperti itu. Mau jadi apa mahasiswa kita jika kebiasaan malas riset dan cepat menghakimi itu menular dari dosen ke anak didiknya. Nanti kita akan punya sarjana-sarjana yang kagetan, yang melihat perbedaan sedikit langsung teriak sesat atau haram tanpa mau tabayyun dulu. Mereka akan gagap menghadapi dunia global yang cair, di mana pertukaran budaya adalah hal yang tak terelakkan. Padahal tantangan zaman sekarang butuh manusia yang luwes, adaptif, dan mampu melihat sesuatu dari berbagai sudut pandang (helikopter view).

Pendidikan tinggi seharusnya menjadi benteng terakhir akal sehat, tempat di mana segala prasangka diuji dan dibedah, bukan malah dilestarikan. Kalau di kampus saja orang tidak bisa membedakan antara tradisi akademik dan ritual keagamaan, lantas di mana lagi kita bisa berharap. Jangan-jangan nanti ada mahasiswa yang mengajukan skripsi tentang filsafat Yunani ditolak karena dianggap memuja Zeus. Ini lonceng bahaya bagi iklim intelektual kita, yang pelan-pelan digerogoti oleh cara berpikir dangkal yang berbaju kesalehan. Kita butuh dosen yang bisa bilang "Mari kita kaji" bukan dosen yang sedikit-sedikit bilang "Itu berbahaya".

Teman saya itu masih tampak masygul, mungkin membayangkan betapa tidak epiknya wisuda nanti tanpa iringan lagu yang ia perjuangkan. Ia membayangkan para wisudawan berjalan masuk dengan iringan lagu standar yang membosankan, kehilangan momen sakral yang seharusnya bisa dikenang seumur hidup. Padahal musik punya kekuatan untuk membangun emosi, dan Gaudeamus Igitur punya struktur nada yang pas untuk momen perayaan kelulusan. Tapi ya sudahlah, nasi sudah menjadi bubur, lagunya sudah ditolak, dan panitia harus jalan terus. Yang penting honor cair dan acara lancar, begitu mungkin pikir anggota panitia yang lain yang cari aman.

Saya lantas berpikir, jangan-jangan ketakutan berlebihan terhadap hal-hal asing ini adalah wujud dari rasa tidak percaya diri kita sebagai bangsa. Kita takut identitas kita luntur hanya karena menyanyikan sebuah lagu berbahasa Latin yang umurnya sudah ratusan tahun. Padahal identitas yang kuat itu tidak akan goyah hanya karena persentuhan budaya, justru akan semakin kaya. Orang yang percaya diri dengan imannya tidak akan merasa jadi murtad hanya karena mendengar lagu Jingle Bells di mal atau Gaudeamus di wisuda. Sempitnya wawasan membuat kita jadi bangsa yang parnoan, curigaan, dan sibuk mengurusi kulit luar daripada isinya.

Sambil menghabiskan sisa kopi, saya mencoba menghibur teman saya dengan lelucon satir bahwa mungkin tahun depan dia harus usul wisuda pakai musik dangdut saja. Atau sekalian pakai koplo panturaan biar meriah dan pasti tidak akan dituduh kebarat-baratan oleh dosen sepuh itu. Teman saya tertawa kecut, menyadari betapa absurdnya situasi yang ia hadapi di lingkungan kerjanya sendiri. Kami berdua sepakat bahwa menjadi pintar secara akademis belum tentu menjamin seseorang itu bijak dalam bersikap dan berpikir. Gelar berderet ternyata tidak mampu mengobati penyakit "kurang baca" yang sepertinya sudah mewabah di mana-mana.

Obrolan sore itu menyadarkan saya bahwa tugas mencerdaskan kehidupan bangsa ternyata masih jauh dari kata selesai, bahkan di lingkungan kampus sekalipun. Masih banyak PR untuk membenahi cara pikir, bukan sekadar membenahi kurikulum atau membangun gedung bertingkat yang mentereng. Nalar yang sehat adalah aset bangsa yang paling berharga, dan itu harus dijaga dari virus kedangkalan berpikir. Kalau para "Resi" di kampus saja sudah terjangkit virus itu, maka kita tinggal menunggu waktu untuk panen generasi yang bingung arah.

Matahari mulai tergelincir ke barat, dan warung kopi tempat kami nongkrong mulai dipenuhi oleh mahasiswa yang mengerjakan tugas atau sekadar mabar. Saya menatap wajah-wajah muda itu dengan penuh harap, semoga mereka lebih rajin membaca daripada dosen yang diceritakan teman saya tadi. Semoga mereka punya rasa ingin tahu yang besar, yang tidak mudah puas dengan satu sumber informasi yang belum tentu valid. Kalianlah harapan masa depan, Dek, jangan sampai otak kalian jadi tumpul karena dididik untuk takut berpikir berbeda. Gunakan akses internet di tangan kalian untuk mencari kebenaran, bukan sekadar untuk joget-joget di media sosial.

Teman saya akhirnya beranjak dari kursinya, wajahnya sudah sedikit lebih cerah setelah menumpahkan segala kekesalan hatinya pada saya. Ia bersiap pulang, mungkin untuk menyusun rundown acara wisuda yang baru tanpa lagu kebanggaan mahasiswa sedunia itu. Saya pun bersiap pulang, membawa serta cerita lucu sekaligus miris ini sebagai bahan renungan di perjalanan. Bahwa di negeri ini, hal-hal yang logis seringkali kalah oleh hal-hal yang mistis atau sentimen yang tidak pada tempatnya.

Satu hal yang pasti, wisuda akan tetap berjalan, toga akan tetap dipakai, dan mahasiswa akan tetap lulus dengan membawa ijazah. Soal apakah mereka lulus dengan membawa nalar yang kritis atau tidak, itu urusan lain yang lebih rumit dari sekadar lagu. Mungkin suatu hari nanti, ketika generasi teman saya ini memegang kendali, Gaudeamus Igitur bisa berkumandang dengan bebas. Tanpa rasa curiga, tanpa tuduhan sesat, dan disambut sebagai perayaan universal atas kemenangan ilmu pengetahuan.

Sampai saat itu tiba, mari kita nikmati saja drama-drama kecil di dunia pendidikan kita sembari menyeruput kopi dan mengelus dada. Karena marah-marah pun percuma, hanya bikin darah tinggi dan tidak mengubah keputusan rapat yang sudah diketok palu. Lebih baik kita tulis saja jadi cerita, biar bisa dibaca orang banyak dan ditertawakan bersama keabsurdannya. Sebab, menertawakan kebodohan diri sendiri adalah langkah awal untuk menjadi manusia yang lebih waras.

Malam pun turun perlahan di kota kami ini, menutup hari dengan sebuah kesadaran bahwa jalan menuju pencerahan memang berliku dan penuh polisi tidur. Hati-hati di jalan kawan, jangan lupa pakai helm, dan jangan lupa bahagia meski usulan lagumu ditolak mentah-mentah. Hidup memang kadang sebercanda itu, dan kita adalah aktor-aktor yang dipaksa tertawa dalam skenario yang kadang tidak masuk akal.

(Mohon maaf jika ada kesamaan tokoh atau kejadian, ini murni obrolan warung kopi yang mungkin saja terjadi di dimensi lain. Ambil hikmahnya, buang ampas kopinya.)

Postingan Lama Beranda

TENTANG PENULIS


Ayah penuh waktu. Penyuka kue lupis dan tempe goreng. Bekerja sebagai penulis partikelir semi-amatir. Kadang-kadang juga jadi tukang dongeng

IKUTI KAMI DI MEDIA SOSIAL

ACADEMIC LEARNING ACCESS

My Courses

KOMIKU

Memuat komik...

Artikel Populer

  • KAMUS BESAR BAHASA MELAYU-INDONESIA
  • SEBENARNYA SERTIFIKAT KHITAN BUAT APA SIH?
  • EFEK DOSEN MAIN KURANG JAUH ; GAUDEAMUS IGITUR DIBILANG LAGU SESAT?
  • DI MUHAMMADIYAH, KESAKTIAN ITU BUKAN KEBAL BACOK, TAPI KEBAL MISKIN LEWAT AMAL USAHA
  • KULIAH [UNTUK] APA?

TEMATIK

Ramadan Bercerita
Tulisan di Media Massa
Opini 1
Kompas.ID
Papan Bunga: antara Ekspresi Tulus dan Konsumerisme Berlebihan
Opini 2
DetikNews
Birokratisasi Kepahlawanan
Opini 3
DetikNews
Tsunami Jurnal di Indonesia
Opini 4
DetikNews
Disrupsi Alam dan Kebutaan Akademik Kita
Opini 1
DetikNews
Pendidikan (Tanpa) Kompetisi
Opini 2
DetikNews
Tanggung Jawab Media Sosial Pascapemilu
Opini 3
DetikNews
Senjakala Sekolah Negeri?
Opini 4
DetikNews
Kado Manis untuk Pekerja Migran
Opini 4
DetikNews
Rapat dan Efisiensi Anggaran
Opini 4
DetikNews
Menggugat Jurnal-Jurnal Pengabdian Masyarakat
Opini 4
TribunNews Bengkulu
Konsep Pariwisata Bengkulu yang Berkelanjutan
Opini 4
TribunNews Bengkulu
Bengkulu dan Krisis Hospitality yang Menggerus Potensi Pariwisatanya
Opini 4
TribunNews Bengkulu
Bengkulu, Kaya tapi Tak Tiba
TribunNews Bengkulu
Menyelamatkan Ekonomi Bengkulu dari Krisis Pendangkalan Pelabuhan Pulau Baai
Opini 4
Tirto.ID
Senjakala Toko Buku di Indonesia, Adaptasi Jadi Kunci Bertahan
Opini 4
Tirto.ID
Empat Titik Kerawanan Pemungutan Suara di Luar Negeri
Opini 4
Tirto.ID
Salah Kaprah Susu Kental Manis: Literasi Gizi dan Tipu-Tipu Iklan
Opini 4
Taipei Times
University attraction to Indonesia
Opini 4
Media Indonesia
Pentingnya Literasi Digital di Era Modern

ADVERTORIAL 1

ADVERTORIAL 1

ADVERTORIAL 2

ADVERTORIAL 2
DMCA.com Protection Status

BUKU KAMI YANG TELAH TERBIT

Copyright © 2013-2024 Andi Azhar. Oleh Andi Azhar