MEREDUPNYA MAKNA LEBARAN K[ET]UPAT



Adalah sesuai penanggalan Islam dan Jawa, maka hari ini adalah Lebaran Ketupat atau yang biasa disebut lebaran kupat. Salah satu perayaan umat Islam Indonesia hasil akulturasi Islam Jawa garapan Walisongo. Mungkin saat ini banyak anak muda yang tidak mengetahui tentang makna dari Lebaran Kupat ini. Parahnya lagi, terkadang mereka tidak mengetahui kapan lebaran kupat ini dilaksanakan.

Lebaran kupat adalah perayaan kemenangan (sama halnya seperti lebaran 1 syawal) setelah 6 hari puasa sunnah di bulan Syawal. Menurut salah satu hadits nabi yang kurang lebih isinya mengatakan bahwa Jika kita melaksanakan puasa ramadhan selama sebulan penuh kemudian disambung dengan puasa 6 hari dibulan syawal, maka baginya pahala puasa layaknya orang berpuasa setahun lamanya.

Dalam perayaan lebaran kupat ini, ada perbedaan dengan lebaran 1 syawal. Yang khas dari lebaran ini adalah adanya makanan wajib pada
perayaan lebaran kupat ini, yaitu Ketupat atau Kupat. Walaupun kadangkala dalam perayaan lebaran 1 syawal pun kita membuat kupat. Namun seiring berjalannya waktu, banyak yang menggantikan keberadaan kupat ini dengan lontong maupun yang lain. Namun dalam lebaran kupat, keberadaan kupat tidak bisa tergantikan dengan lontong maupun yang lain.

Lebaran kupat sendiri tidak hanya sekedar menjadi tradisi yang dilaksanakan setiap tahun. Lebih dari itu, kupat yang menjadi simbol utama dalam perayaan ini adalah anyaman janur kuning yang menggambarkan jalinan silaturrahmi yang erat, saling membungkus, dan saling menguatkan. Semacam simbol pentingnya persatuan dan kesatuan. Menurut saya, janur kuning, daun kelapa muda, juga berarti simbol perlunya mempermuda, terus memperbarui jalinan silaturrahmi agar tidak lekas menua dalam pengertian menjadi rapuh dan lemah. Sebab, rapuh dan lemahnya silaturrahmi adalah embrio keterpecahan baik individual maupun kolektif. Dan ini berbahaya bagi kelangsungan hidup kita.

Kita beruntung memiliki perayaan Idul Fitri. Kita juga diuntungkan dengan tradisi dan budaya kupat atau ketupat dengan simbolisasinya. Karena Kupat bisa menjelaskan Hakikat Idul Fitri dengan mengangkat dan mengharagai budaya lokal. Kita tidak harus alergi dengan simbol darimanapun itu asalnya. Sebab, dalam simbol, kita bisa menguak makna tanpa kehilangan esensinya.
Namun yang terjadi saat ini adalah banyak orang merayakan lebaran kupat hanya sebagai tradisi saja tanpa tahu makna dibalik itu semua. Sama halnya dengan lebaran 1 Syawal, lebaran kupat juga pada dasarnya hanya dirayakan oleh orang-orang yang melakukan puasa sunnah 6 hari di bulan syawal.

Mengutip dari salah satu firman Allah SWT “ Bukankah orang yang berhari raya itu adalah yang mencukupkan puasa dan membayar zakat?”
Mari, sebagai sesama muslim kita mencoba flashback tentang amal apa saja yang sudah kita perbuat. Bukan hanya sekedar tradisi yang kita lakukan, namun esensi merupakan hal terpentinglah yang mesti dilakukan. Tegakkan syari’at, menuju rahmat Allah SWT di akhirat.

Selamat berlebaran

dR.

Share:

0 komentar